Category Archives: daily journal

Ikut Lokakarya Menulis Novel Bareng Jia Effendie

Proud of myself because I feel like end last year and start this new year with positive activities.

Akhir tahun kemarin saya berkesempatan mengikuti workshop branding di kantor dengan pemateri Amalia E. Maulana, seorang pakar etnografi yang sudah sering saya baca blognya sejak jaman kuliah.
Kemudian di awal tahun ini, berawal dari iseng setelah sebuah email dari Storial masuk ke inbox. Saya mendaftar Lokakarya Menulis Novel dengan pemateri mbak Jia Effendie, salah seorang mantan editor GagasMedia yang memutuskan jadi freelancer.

Lokakarya Menulis Novel?  Nggak muluk-muluk alasan saya ikutan, cuma pengen tahu seperti apa sih proses menulis novel itu sebenernya. Oke daftar. Dua hari workshop pada 7-8 Januari cukup bayar Rp 150.000 aja. Sudah include materi dan snack, sambil ngasih makan otak ngasih makan perut juga. :p
Lokasi workshop di CO & CO working space yang ternyata bersebelahan dengan Warunk Upnormal Dipati Ukur. Lantai bawah berupa kafe yang namanya Butterfield Kitchen, lantai atasnya berupa ruang-ruang alias working space. Ya ampun padahal tuh tiap hari saya lewat sini lho kalau berangkat dan pulang kerja tapi nggak ngeh ada tempat begini.  Jadi dapat informasi tempat baru nih. Ho ho.

Hari pertama workshop menulis diikuti oleh sekitar limabelas orang kalau dilihat dari daftar hadirnya. Nggak ngitung lagi sih pas di dalem kelas. diisi dengan materi tentang dramatic storytelling. Peserta diminta mendefinisikan arti novel bagi masing-masing kita. Menurut saya? Novel itu cerita yang panjang, yang jadisebuku, yang bukan cerpen.  *abaikan*whatsapp-image-2017-01-23-at-01-27-24

Kita diajari cara melakukan pembentukan karakter.  Yah bikin tokoh di novel itu nggak sekedar namanya Raissa dan berperan sebagai remaja SMA. Kompleks banget ternyata. Bikin tokoh novel mungkin bisa dibilang semacam create karakter di The Sims. Semakin detil semakin bagus, mulai dari fisik, sifat bahkan sampai psikologisnya. Maksudnya penulis punya catatan tentang deskripsi masing-masing tokoh. Bukan ditulis satu-satu di novelnya. Itu sih namanya Buku Kenangan SMA kalau ada biodata plus kata mutiara. -.-

Selain itu kita diminta membuat premis dari novel yang mau kita buat, memunculkan konflik juga membuat outline. Oh no, siapa bilang nulis itu gampang? Fitnah banget. Ha ha.
Masalah konflik nih ya, saya bisa memunculkan konflik tapi abis itu nggak bisa ngasih resolusinya. Dudul abis kan. Semacam hit and run, tidak untuk ditiru.

Hal krusial dalam pembuatan novel yaitu outline. Iya sebelum ditulis kita sudah punya gambaran mengenai isi bab per bab sampai terakhir. Jangan kayak saya, punya ide, nulis terus bosen atau nggak tahu mau diapakan T.T Pokoknya kalau mau tahu contoh penulis abal-abal nggak usah jauh-jauh, nih disini orangnya :p

Ohiya satu lagi, menulis novel itu butuh endurance. Bener-bener berbeda dengan menulis cerpen, blog atau berita yang paling cuma butuh beberapa paragraf aja. Bayangkan … berlembar-lembar naskah harus kelar sampai bisa disebut buku. Hal ini diakui juga oleh mbak Jia Effendie yang menyebutkan bahwa dirinya termasuk penulis nafas pendek. Ah si embak mah spesialis editor :p

Workshop hari kedua lebih santai. Eh padahal ada PRnya sih. Di hari kedua ini lebih banyak bicara tentang proses penerbitan. Gimana mengajukan naskah ke penerbit, apa saja yang perlu dipersiapkan. Kemudian ada sharing session dari mbak Erlin Natawiria yang sudah menerbitkan beberapa novel termasuk yang terbaru serial Blue Valleys, mbak Lou dari Storial.Co, dan mbak Rina Wulandari dari Falcon Publishing.  Yeayy !

whatsapp-_-reaterary

Hal lain yang saya nggak sangka dari workshop ini, ternyata pesertanya itu rata-rata sudah pernah menerbitkan buku lho. Baik diterbitkan melalui penerbit major maupun lewat penerbit indie. Sama-sama kerennya. Satu-satunya buku karya saya tidak lain adalah buku skripsi :3 Peserta terkecil masih duduk di bangku SMP, tapi sudah punya buku KKPK yang diterbitkan Mizan. Peserta lain jauh-jauh dateng dari Jogja. Bersyukur part lainnya adalah saya duduk di meja belakang, dimana karakter anak belakang rata-rata berlaku sama. Anak-anak bandel yang bersisik eh berisik. Karena kenal mereka saya jadi dapat banyak ilmu. *ah kemana aja sih selama ini*

Di sesi akhir peserta diminta bikin kalimat dengan tiga keyword, hadiahnya buku Blue Valley Series. Makasih mbak Erlin yang sudah memilih kalimat karangan saya. Senangnyaaa dapet buku gratis ! Saya dapat yang judulnya Senandika Prisma karya mbak Aditia Yudis. Lagi dalam proses dibaca sampai sekarang.

So far bagaimana tanggapan saya tentang Lokakarya Menulis yang diadakan sama Reaterary? Jawabannya puas dan worth to join. Bahkan kita-kita mau kalau diadakan lagi acara sejenis besok-besok.
Special thanks to Mbak Jia Effendie yang sudah mempertemukan kami semua.

Penyelenggara acara,

Reaterary
https://www.instagram.com/reaterary/
https://reaterary.wordpress.com/

Lokasi,

CO&CO Space
Jln. Dipati Ukur No.5, Bandung
https://www.instagram.com/coandcospace/

Anak meja belakang,

Dy Lunaly : https://www.instagram.com/dylunaly/
Vie Asano : https://www.instagram.com/vieasano/
Chika Riki : https://www.instagram.com/chikariki9/
Sandra S : https://www.instagram.com/ssaffira.id/
Aulia : https://www.instagram.com/k.aulia.r/
Salma : https://www.instagram.com/bbellabbannanna/
Dita : https://www.instagram.com/frappiocoffee/

[HangOut] : Diana Rikasari & Dinda Puspitasari Main ke Bandung

Berasa kayak kenal terus diajakin nongkrong bareng aja. Ho ho. So, memang bener Diana Rikasari & Dinda Puspitasari dateng ke Bandung Sabtu kemarin, lebih tepatnya ke Gramedia Merdeka depan BIP, untuk talkshow buku #88 Love Life Vol.02.

Saya sendiri awalnya nggak niat-niat banget mau ikutan talkshownya. Cuma tau pas Diana posting di Instagram. Sebelum dateng ke talkshow saya udah wira-wiri kesana kemari. Pertama ke kantornya Sriwijaya Air buat ngurus refund tiket karena tiba-tiba flight saya pakai NAM Air dicancel. Abis itu ke Braga Citywalk buat cucimata di Sportwarehouse sambil nengokin Braga XXI yang baru. Fyi, sebelumnya bioskop di Braga Citywalk masih 21 bukan XXI. Lalu, lanjut ke BIP buat windows shopping gajelas. Baru abis Ashar saya nyebrang ke Gramedia.
Pas banget jam 16.00 dan udah pada memenuhi mezzanine lantai 2nya Gramedia. Saya pengen duduk paling depan biar lebih jelas. Tapi saya ngerasa agak durhaka karena belom beli buku #88 Love Life baik yang pertama maupun yang kedua. *pengakuan dosa*. Udah pernah baca dua-duanya sekilas, emang lucu dan menarik dalemnya. Cuma belum ada urgensi buat beli bukunya. Mungkin besok-besok ada yang mau ngado saya buku itu? :p Yauda saya duduk paling belakang tapi di spot strategis yang memungkinkan saya melihat Diana dan Dinda secara jelas.
Waktu mereka masuk ke ruangan rasanya saya pengen teriak-teriak ala groupies. Ha ha. Nggak deng. Jujur ngerasa seneng karena dua orang yang biasanya Cuma bisa dilihat via akun medsos mereka sekarang bisa dilihat langsung di depan mata. Terutama Diana Rikasari yang blognya sudah saya ikuti dari jaman dia belom punya UP, belom nikah, sampe sekarang sudah punya anak satu.
Speaking ‘bout the book, ini merupakan buku kolaborasi kedua yang lahir secara tidak sengaja. Lho kobisa? Yup, karena buku #88 Love Life Vol.02 ini bener-bener nggak direncanakan sebelumnya. Justru mereka berencana melakukan perayaan terbitnya buku #88 Love Life yang pertama. Terus mereka bingung mau bikin apa.
“Eh malah penerbit kami bilang, ya sudah acaranya launching buku yang kedua aja.” Jelas Diana.
Buku kedua ini tercipta secara kilat. Diana ‘Cuma’ butuh waktu *bentar saya lupa* sekitar 1-2 bulan untuk menyiapkan materi buku, sedangkan Dinda ‘Cuma’ butuh waktu 2 minggu untuk mengerjakan ilustrasinya.
“Kami diiming-imingi kalau buku kedua ini bisa dicetak dengan cover glitter dan ber-pompom. Jadi makin semangat ngerjainnya. Eh ternyata pas mau naik cetak baru ketahuan kalau kami dibohongi. Karena nggak memungkinkan untuk menggunakan glitter dan pompom,” ujar Dinda sambil tertawa. Mereka mengaku nggak kecewa meskipun ‘ditipu’ karena mereka justru melahirkan buku baru.

88lovelife-bdg
Foto dari Instagram @88lovelife

Bedanya apa #88 Love Life Vol.01 sama 02? Dari segi tampilan sekilas mirip. Gedenya mirip. Tapi warna covernya beda. Kalau yang pertama lebih stabillo pink dengan warna huruf glittery gold, sementara yang kedua warnanya cenderung fuchsia dengan tulisan glittery silver. Isi dalamnya juga beda, yang pertama dibuat ketika Diana belum menikah. Sedangkan yang kedua dibuat ketika dia sudah berkeluarga. Bisa dibilang isinya lebih matang.

Sewaktu sesi Tanya jawab rupanya pada antusias buat nanya. Nggak abis-abis pertanyaannya. Yang nanya juga masih ABG unyu-unyu, sama deh kayak saya 😀 Eh ada juga lho ibu-ibu guru Sosiologi yang nanya. “Mbak, kenapa sih bukunya kok ditulis dalam Bahasa Inggris. Kan saya jadi susah ngerti isinya. Apa nggak ada rencana bikin dalam Bahasa Indonesia?” Tanya si Ibu tersebut. He he. Iya juga ya, dipikir-pikir generasi jaman sekarang mungkin lebih familiar dengan Bahasa Inggris ketimbang generasi orangtua kita. Menurut Diana buku tersebut ditulis dalam Bahasa Inggris karena dia lebih nyaman pakai Bahasa Inggris. Secara ya dia lahir besar dan kuliah S2 di LN.

“Kenapa malah bikin buku motivational quotes, bukan buku tentang fashion?” Ujar salah satu penanya. Jawabannya, karena menurut Diana fashion adalah personal statement tiap orang. Bukan sesuatu untuk diajarkan, bukan didikte. Selain itu dia merasa bukan seorang expert di bidang fashion. Kebetulan saja hobinya memang mix & match penampilan. “Karena sebenernya passion aku lebih tentang life. Aku akan bersemangat dan bisa panjang lebar kalau diajakin ngomong tentang hidup.” Ih kita samaan, Di. High five! 😀
Nggak terasa acara berlangsung selama dua jam. Kelar talkshow jam 18.00 dilanjut sesi booksigning dan foto bareng. Nyesel juga kalau dipikir-pikir kenapa nggak ngajak foto ramean semua yang dateng yaa. Pasti seru. Happy banget bisa ketemu dua cewek kece nan keren ini. Masih muda tapi karya-karyanya sudah luar biasa membahana. Dan karena ketemu Dinda saya jadi pengen belajar gambar. Entah mulai darimana. Lihat portofolionya si Dinda & Diana bikin saya merasa bagaikan butiran debu.

Anyway, saya sempet nanya juga ke mereka. Tapi mau dibikin postingan terpisah. Daripada kepanjangan di postingan ini, mending kita bikin bersambung biar kayak sinetron.

We need to be creative, we need to be inspiring ! ❤