Cerpen : Experience is the Best Teacher (?)

Kamu memperhatikanku menuang
satu-persatu isi piring ke dalam panci berisi kuah tomyum yang sudah
mengeluarkan suara mendidih.

“Aneh ya.” Ujarku sambil memasukkan
potongan sawi.

“Apanya?”

“Di semua restoran self-service justru
harganya lebih mahal daripada restoran cepat saji. Seperti ini contohnya.”

Kali ini giliran tofu yang
menggelinding masuk panci. Kamu menatapku sambil tertawa.

“Ya justru itulah, mereka menjual experience.
Pengalaman. Pelanggan bebas memilih dan memasak makanan yang mau mereka
makan.”

“Masuk akal. Memang seringkali ada harga yang harus dibayar mahal untuk sebuah
pengalaman. Makanya ada pepatah bilang, pengalaman itu mahal harganya. MAHAL. Termasuk
…”

Sengaja kutekankan kata ‘mahal’ dan kugantungkan kalimatku sambil melirik
kearahmu.

“Ya ya ya, sindir aku terus.”

Aku tertawa senang melihat muka
sebalmu. Aku tahu kamu tidak pernah bisa benar-benar marah padaku. Salah satu
kelemahanmu yang seringkali sengaja kuserang habis-habisan. Terutama saat
usilku kambuh.  Semua bahan suki sudah
masuk ke panci. Sambil menunggu kutata potongan daging ayam dan sapi di atas
panggangan.

“I always love coffee. Maybe
almost every kind of coffee.”

Kusedot perlahan gelas berisi es kopi di hadapanku. Lalu mulai menuang kuah
suki dan isinya kedalam mangkuk. Tidak sabar menunggu daging-dagingnya matang.

“And I always love you.”

Sebuah tatapan galak kulemparkan dengan sukarela kearahmu.

“Aku seringkali nggak habis pikir.
Kenapa aku harus dipertemukan dengan orang yang salah disaat yang tepat lalu
dipertemukan dengan orang yang tepat disaat yang salah.”

Hampir saja aku tersedak dan sudah bersiap menghinamu lagi, tapi mukamu terlihat
serius jadi aku urung melakukannya.

“Lho, bukannya memang gitu kan? Kita seringkali dihadapkan pada orang-orang
yang salah sebelum bertemu dengan orang benar buat jadi pasangan kita. Dan
siapa tahu yang sekarang ini juga masih salah.”

“Tapi aku yakin yang ini adalah orang yang benar.”  Ucapmu penuh keyakinan.  Aku menggelengkan kepala.

“No…no…no. Ini loh jeleknya kamu. Gini deh ya,dulu waktu sama Runa kamu merasa
dialah yang paling tepat, paling cocok, paling oke, paling iyes buat kamu.
Terus pas sama Vina juga, kamu merasa kalau jodohmu Vina. Nah coba kalau dulu
ada yang bilang ke kamu kalau Runa atau Vina itu orang yang salah buat kamu,
apa kamu mau dengerin omongan mereka? Aku rasa nggak. I know you a lot.”

“Kali ini beda.”

“Ah dasar kamu. Kamu bisa bilang Runa atau Vina adalah orang yang salah juga
baru setelah ada kejadian ini dan itu. Pada titik ini kamu sedang jatuh cinta,
lagi seneng-senengnya, tapi nanti pasti ada masanya kamu sadar apa pilihanmu
itu beneran tepat. Yang jelas orang yang tepat akan datang disaat yang tepat.
Titik.”

Kamu menatapku yang berapi-api membara sambil melongo.

“Kamu kok emosi?”

“Oh maaf, kelepasan. He he. Kebiasaan sih. Oiya, karena kamu sudah tahu bahwa
pengalaman itu MAHAL harganya jadi sebaiknya kamu bisa memetik pelajaran
sebanyak-banyaknya dari situ. Supaya nggak terulang dua, tiga, empat, lima
kali.”

Kali ini aku terlambat berkelit dari serangan toyoranmu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: