Bye Little Baby.

Life keeps surprising us in many ways.

Hari ini berjalan seperti hari-hari biasanya bagi saya. Bangun tidur, berangkat ke kantor, kelaperan pagi-pagi dan tidak ada yang istimewa. Namun bagi sebagian orang hari ini bisa jadi momen tak terlupakan dalam hidup mereka. Misalnya saja salah satu teman di ruangan saya ijin pulang cepat karena adiknya melahirkan. Ya dia resmi jadi paman hari ini.

Sedangkan ironisnya di satu sisi tadi pulang kantor saya, teteh mas Doni dan beberapa teman lainnya mampir ke Rumah Sakit Borromeus. Kami mendengar kabar tentang mbak Risma yang bayinya meninggal dalam kandungan kemarin. Padahal mbak Risma seharusnya dijadwalkan melahirkan minggu depan. Oh another God’s planšŸ˜¦

Saat melangkah ke ruangan IGD khusus bersalin rasanya hati saya seperti digelitik. Suara tangisan bayi terdengar dari deretan kamar-kamar disitu. Gimana perasaan mbak Risma yang tidak pernah bisa dengar tangisan bayinya.

Kami masuk ke kamar tempat dia dirawat. Bergantian memeluk dan mengucapkan kata-kata hiburan. “Semangat ya mbak!” Itu satu-satunya yang terpikir di kepala saya. Matanya masih sembab dan ketika kami datang tangisnya kembali pecah. Mbak Risma menceritakan bagaimana kronologinya pada kami.

Sabtu dia masih ke dokter untuk periksa dan USG saat itu dinyatakan ibu dan bayinya sehat. Siap untuk melahirkan seminggu lagi. Hari Minggu dia merasa bayinya bergerak lemah, tidak aktif seperti biasanya. Kemudian hari Senin dia periksa ke dokter kandungan dan saat itu tidak ditemukan detak jantung bayinya. Lalu dia menginginkan second opinion dan periksa ke RS. Borromeus. Ternyata di Borromeus dokter dan susternya menyatakan hal yang sama.

Bayinya sudah meninggal. Diduga tali pusarnya melintir sehingga terkunci, akibatnya bayi tidak bisa bernafas. Langsung mbak Risma setuju ketika ditawari untuk diambil bayinya. Senin pagi dia masuk rumah sakit. Dokter mengatakan prosesnya akan sama dengan bersalin biasa karema dianjurkan bersalin secara normal. Jika diambil dengan operasi caesar maka butuh waktu 2 tahun luka operasinya sembuh dan baru boleh program hamil lagi. Sedangkan jika normal hanya butuh penyembuhan selama 6 bulan.

Selama 15 jam mbak Risma berjuang melahirkan si adik bayi. Bahkan dibantu juga dengan induksi. Akhirnya tadi pagi sekitar jam 11 mbak Risma berhasil melahirkan dengan lancar. Namun dia tidak pernah sempat mendengar tangis si adik cantik. Anak pertamanya tersebut langsung dimakamkan.

Merinding sekujur tubuh saya mendengar ceritanya. Bahkan ibu-ibu dan mbak-mbak yang sudah pernah melahirkan ikut menangis terisak-isak. Ya, mereka pasti lebih tahu rasanya. Kebahagiaan yang sudah ditunggu selama 9 bulan :’)

But she is a tough woman. She will be strong and keep alive. Semoga semuanya baik-baik saja. Semoga adik bayi bahagia disana. Bye little baby.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: