Menikmati Seduhan Film Filosofi Kopi

“Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.” ~ Filosofi Kopi

Hooraayyy !! Level dating with myself alias me time saya akhirnya meningkat. Maksudnya? Well, bagian sebagian orang mungkin terasa aneh ketika harus jalan-jalan ke Mall sendirian, makan sendirian, nongkrong di kedai kopi sendirian atau menghadiri suatu acara sendirian. Tapi bagi sebagian orang termasuk saya hal tersebut sangat menyenangkan dilakukan. Terkesan aneh? But we love the way we’re dating ourselves. Sama dengan keheranan saya dengan orang yang setiap hari nggak bosen nongkrong-nongkrong ketemu banyak orang. Kok bisa ya?
Nah, kali ini akhirnya saya nonton di bioskop sendirian. Perdana !

Jadi sepulang kantor saya langsung meluncur ke Blitzmegaplex yang baru beberapa waktu lalu buka cabang di BEC. Yup, sekarang kalau mau nonton di Blitz (omong-omong Blitzmegaplex ganti nama jadi CGV Blitz) nggak perlu jauh-jauh ke Paris van Java yang notabene maceeeettt. Gimana rasanya nonton sendirian? not bad sih. Justru jadi lebih konsen nonton filmnya. Asal sebelah kamu bukan pasangan yang lagi asyik mesra-mesraan. Bukannya baper atau gimana, saya keganggu aja sama tipe orang-orang yang doyan PDA alias public display affection. Dan begitulah saya dapat kursi ndempis di pojokan dengan sebelah saya sepasang muda-mudi yang mesra. Padahal filmnya nggak ada romantis-romantisannya lho.

Film yang saya tonton yaitu Filosofi Kopi. Telat ya? Iya banget. He he. Abisnya dulu pas ada filmnya saya masih belom punya tekad bulat nonton sendirian. Memang Filosofi Kopi sudah beredar sejak awal tahun ini. Tapi saya dapat kesempatan nonton film ini karena sedang ada Korea Indonesia Film Festival (KIFF), acara tahunan bagian dari Korea Festival yang diadakan setiap bulan Oktober. Jadi KIFF ini bisa dibilang pertukaran kebudayaan dua negara. Film-film Indonesia diputar di Korea dan begitupula sebaliknya. Sebenernya saya ngincer banyak judul film Korea tapi hebatnya seminggu sebelum acara tiketnya sudah pada sold out. Sementara untuk pemutaran Sabtu-Minggu wajib beli on the spot pas hari H. Satu-satunya yang kebagian ya Filosofi Kopi ini, itupun tinggal paling depan atau nyempil-nyempil. Nah, karena Filosofi Kopi diputer juga di Korea otomatis film ini dilengkapi subtitle Bahasa Korea dalam huruf Hangul. Ho ho. Jadi kadang pas dialog pendek-pendek saya ngebayangin mereka lagi ngomong pakai Bahasa Korea.

Lalu bagaimana pendapat saya setelah kelar nonton filmnya? Baguuuuusss bangeeeeettt !!! Saya suka.❤ Terlepas dari apa yang kata orang jauh berbeda dari bukunya. Saya menikmati a whole movie sebagai suatu karya yang terinspirasi dari buku Filosofi Kopi karangan Dee Lestari. Memang banyak yang berbeda sih, namun tetap nggak rugi untuk dinikmati.

Sebagai seorang yang (suka ngaku-ngaku) pecinta kopi saya jadi kagum dengan sosok Ben. Idealisme dan kerja kerasnya dalam mendalami serta mencintai kopi membuat saya merasa nggak tahu apa-apa. Saya pengen orang kayak Ben ini ada beneran, terus bisa diajakin diskusi tentang kopi. Kayaknya bakal seru punya kenalan seorang jenius kopi. Mungkin lebai, tapi saya merinding melihat cara Ben memperlakukan biji kopi. Caranya membuat kopi dengan cinta dan setulus hati. Namanya juga cinta, kamu akan rela melakukan apa saja untuk mempelajarinya, untuk memahaminya. :p Eh curhat.

Saya suka dengan dialog-dialog dalam film ini. Nggak terkesan cheesy. Perpaduan yang pas antara kalimat-kalimat cerdas penuh filosofi dengan selipan humor. Pas lucu saya bisa ikutan ketawa, pas bagian sedih juga saya jadi kebawa mellow. Palingan yang agak ganggu adalah dialog Julie Estelle. Kok saya ngerasa dia kaku banget ya aktingnya? Terus dialognya sama Jodi yang diperankan sama Rio Dewanto juga kayak nggak ada chemistrynya. Yeaaa tokoh El yang diperankan Julie Estelle juga sebenernya nggak ada di buku. Biasalah yaaa.. demi commercial purpose wajib menampilkan sosok yang menarik secara visual.

Saya suka dengan filosofi dari riap-tiap jenis kopi yang dijelaskan melalui kartu-kartu. Jadi pengen punya kedai kopi yang punya menu-menu bercerita. Setiap kopi ada kisahnya masing-masing. Berikut saya kutip definisi masing-masing kopi menurut Filosofi Kopi,

Filosofi Perfecto — Sukses adalah wujud kesempurnaan hidup.
Filosofi Kopi Tubruk — Kenali lebih dalam dan terpukaulah oleh lugunya sebuah pesona.
Filosofi Cappuccino — Keseimbangan dan keindahan adalah syarat mutlak keberhasilan.
Filosofi Tiwus — Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.
Filosofi Macchiato — Sendirian atau berdampingan hidup sepatutnya tetap penuh arti.

Saya suka dengan persahabatan yang ditampilkan antara Ben dan Jodi. Mereka bisa bersahabat selama belasan tahun dengan dua karakter yang sangat bertolak belakang. Satunya realistis satunya menuruti passion. Seperti yang dianalogikan Jodi, dia ibarat kepala sedangkan Ben itu ibarat hati. Keduanya tidak akan akan bisa survive tanpa satu sama lain. Oh sweet. Another kind of bromance. Ho ho.

Saya suka dengan adegan yang mengandung sindiran di film ini. Misalnya saat segerombolan anak muda datang ke kedai Filosofi Kopi lalu batal order gegara nggak ada wifi. Ke kedai kopi itu buat minum kopi, bukan buat cari wifi. Ha ha. Iya sih, kalau dipikir-pikir tiap kali saya ke kedai kopi sama teman-teman saya, meskipun judulnya nongkrong di warung kopi tapi yang pesen kopi cuma saya. Ha ha. Bahkan saat ke kedai kopi berlogo ijo alias Sbux juga pesennya pada coklat atau green tea. Sedih. Terus pas adegan pengunjung moto-motoin minumannya yang langsung digertak sama Ben. Kopi itu buat diminum bukan buat difoto-foto sampai dingin. :)))) Saya ngakak-ngakak sendiri. Memang ironis kalau dipikir-pikir. Berapa orang yang datang ke kedai kopi karena mereka memang suka kopi, karena mereka ingin menikmati kopi. Jaman sekarang kedai kopi itu lifestyle. Tempat ngejogrok berjam-jam numpang wifi, rumpi-rumpi cantik plus foto-fotoan. Saya malas dengan kedai kopi hits jaman sekarang yang cuma fancy tempatnya doang tapi bikin kopinya ngasal. T.T

Saya suka dengan selipan informasi mengenai kopi. Seperti jenis-jenis biji kopi, kemudian ada adegan lelang biji kopi, peralatan membuatnya, teknik pembuatannya. Membuat saya makin mencintai komoditi satu ini.

Saya suka dengan konflik yang dialami masing-masing tokohnya. Bagaimana mereka bisa menyelami makna dari rentetan kejadian dalam hidup mereka.  El berdamai dengan menanggalkan kebencian akan ayahnya dengan memutuskan menuntaskan buku terakhir ayahnya tentang kopi. Jody berdamai dengan kemarahannya akan hutang ayahnya serta perlakuan ayahnya saat mengasuhnya, dan Ben berhasil memaafkan ayahnya dengan pulang ke kampung halamannya. Filosofi Kopi.  Berdamai dengan masa lalu dan diri sendiri itu tidak mudah.

Dua kata tentang film ini, indah dan menyenangkan.❤

Oyaaa saya juga sempet beli nachos buat teman nonton. Lumayanlah saya bisa kraus-kraus berisik di kala pasangan sebelah saya mesra-mesraan. :p Tapi saya kecewa sodara-sodara dengan rasa nachos dan cocolan kejunya. Menurut saya nachosnya terlalu keras dan tebal. Kejunya juga lebih gurih punya XXI. Lebih berasa lumer. Ho ho. Subjektif ya ini, dan bukan karena saya diendorse sama XXI juga sih. -_________________- Kelar nonton film tentang kopi kemudian saya jadi craving for coffee. Dan saya memutuskan memanjakan lidah dan perut dengan order teh tarik dingin di Killiney Kopitiam BEC. Salah satu tempat ngopi favorit saya sejak di Surabaya. Kayaknya harga makanan minumannya jadi mahal-mahal deh. Hiks.

Nah, level dating with myself saya bakalan komplit kalau saya sudah solo travelling. Yang ini masih belom berani. Ho ho. Cupu yak? Tapi pengen gitu sekali-sekali ngebolang sendirian, bener-bener sendirian. Sorangan. Bukan yang janjian di tempat tujuan. Hanya saja lagi-lagi masalah gender, lebih bahaya kalau cewek pergi sendirian ketimbang cowok pergi sendirian.

Kalau kamu, gimana caramu menikmati me time?

4 responses

  1. Bulek… Ngopiii yuukkk…

    1. Hahaha. Helaaawww… sopomeneh seng nyeluk aku bulak bulek -______- Bayarono nang warung ijo ngarep kantormu yaaa. Aseeeeek.😀

  2. Aku harus komen apa?

    1. Lebih baik kamu diam tidak berkomentar -..-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: