Cerita Pendek : Menyeduh Rindu

Kopi hitam. Sejak kapan? Aku menertawai diriku sendiri. Kopi hitam bukanlah kebiasaanku. Tapi akhir-akhir ini aku mulai belajar mencintainya perlahan-lahan. Alasannya cukup dangkal. Aku tidak mau lagi menjadi penikmat kopi yang banci. Ya, begitulah aku melabeli diriku sendiri. Mengaku pecinta kopi tapi berlindung di balik susu, gula dan krimer. Ah banci. Kemudian aku nekat menyeduh kopi hitam. Meskipun dengan takaran yang amburadul. Kadang terlalu pekat, kadang encernya seperti kuah bakso. Kemudian aku mencoba meninggalkan gula, susu dan krimer perlahan-lahan. Meskipun tidak sepenuhnya. Tapi sekarang aku sudah doyan minum kopi hitam. Aku pemberani kan?

Aroma kopi menyebar memenuhi sudut-sudut kamarku. Dari sekian banyak jenis minuman kenapa aku harus tergila-gila pada kopi. Bukankah masih ada teh, susu, coklat, dan yang sedang tren sekarang yaitu green tea. Mungkin seperti jatuh cinta, kamu tidak bisa memilih kepada siapa hatimu jatuh. Itu bukanlah hal yang bisa diatur-atur apalagi dipaksakan. Mengalir begitu saja. Kurasa itu lebih kepada masalah selera. Dan lagi-lagi seperti perasaan cinta, kamu akan makin mengaguminya saat kamu mengenal karakternya.

Di mataku kopi itu lambang kesederhanaan yang bersahabat. Mungkin saja aku berlebihan, mungkin saja aku terlalu muluk-muluk. Tapi secangkir kopi dapat menghasilkan ribuan topik pembicaraan, dapat menemani candaan-candaan hangat, mampu membuatmu memiliki sahabat atau kenalan baru. Dan semua itu tidak dibatasi ruang dan waktu. Kamu bisa meminum kopi pagi, siang bahkan hingga larut malam. Kenapa aku bilang kopi itu sederhana? Karena semua kalangan bebas menikmatinya. Dengan beberapa ribu rupiah secangkir kopi nikmat sudah bisa tersaji, atau jika ingin agak naik kelas maka perlu merogoh kantong hingga beberapa puluh ribu rupiah. Toh yang dipinggir jalan tidak kalah rasanya dengan yang di kafe ber-AC. Tentu saja berbeda dengan minuman-minuman populer lainnya. Tidak ada breakfast tea terhidang sembarangan. Menikmati coklat hangat yang enak tentu saja tidak bisa di warung pinggir jalan. Pun tidak ada petugas ronda yang main kartu, ngobrol sambil minum green tea latte. He he.

Kamu tahu apa salah satu wishlistku? Punya mesin kopi sendiri di rumah. Jadi aku bisa meracik espresso favoritmu atau menghidangkan capuccino favoritku setiap waktu.

Banyak orang jantungnya berdebar kencang lantaran minum kopi hitam. Akupun pernah mengalaminya. Tapi kali ini aneh, bahkan belum kusentuh kopiku, hanya mencium aromanya saja sekujur tubuhku mendadak merinding dan kurasa jantungku seperti ingin meloncat keluar. Hey, aku belum siap mati muda. Oh, rupanya aroma kopi juga menjadi pemicu kuat munculnya kenangan di kepalaku. Tentang malam-malam penuh cerita yang disajikan bersama kopi favorit masing-masing. Di kedai kopi favorit kita, yang tak banyak orang tahu. Alih-alih datang ke kedai kopi terkenal kita lebih nyaman duduk berseberangan di sebuah kedai kecil dengan atmosfir hangat bersahabatKursi-kursi dan meja kayu sederhana. Dinding bata yang sengaja tidak dicat. Semua yang terlihat tua, kuno tapi indah.

Aku ragu, mana sebenarnya yang lebih aku rindu? Aroma kopimu atau aroma tubuhmu. Mungkin saja keduanya. Merindumu seperti menanam biji kopi. Harus sabar, menunggunya tumbuh dan siap panen. Butuh waktu dan proses panjang. Bukan yang instan seperti beli kopi sachet-an di warung seberang.  Merindumu harus sabar menunggu, hingga waktu kita bertemu.

Ah, kopiku sudah dingin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: