Dating Him. (Part 2)

Uh kepalaku! Mataku! I am so messed up. Sekarang jam setengah 7 pagi dan aku baru tidur satu jam. Good, inilah efek ketemu Lee Min Ho tadi malam. Jauh lebih gila daripada mengonsumsi bergelas-gelas kafein. Aku masih bisa mengingat caranya tertawa, caranya tersenyum, suaranya, semua itu terasa real yet unreal. Tunggu … tunggu … aku belum tahu aroma tubuhnya. Satu-satunya cara adalah memeluknya kurasa. Ha ha. Dasar akal bulus. Kugigiti bantalku karena gemas sendiri.

Terhuyung aku berjalan ke arah kamar mandi. Menyelesaikan ritual mandi dengan mata setengah terpejam. Aku cuma punya waktu 30 menit atau aku akan merasakan kegagalan berkencan terbesar dalam hidupku. Pakai baju apa ini? Secara aku kemari sebagai turis setengah gembel, jadinya nggak mempersiapkan baju-baju yang terlalu hore. Justru aku hanya membawa pakaian yang ringan dan mudah dimasukkan ke backpack.

Biasanya sebelum keluar hostel aku akan sibuk mengunyah aneka sarapan yang disediakan. Roti bakar, telur, sereal, jus buah, kopi dan teh. Tapi kali ini aku hanya lewat sambil menyapa yang sedang sarapan. Semoga Lee Min Ho belum datang. Dalam hati aku takut dia dibuntuti paparazi. Makin parah jika dispatch menangkap basah kami. Lalu tidak lama kemudian akan muncul headline berita seorang aktor Korea tertangkap basah bersama seorang perempuan Indonesia bermuka bantal, bermata panda, penampilan seadanya. Aku kaget ternyata dia datang on time. Tangannya memberiku kode segera masuk mobil. Aww! Kereta kudaku sudah datang, dikendarai sendiri oleh pangerannya. Mari bepergian ke negeri dongeng.

“Menurutmu kita mau sarapan dimana?”

Pengennya jawab, dimana aja mau asalkan ada aku dan kamu. Gila … gila … aku harus menahan diri, lebih-lebih mulutku yang suka sembarangan ini. Aku menggeleng sambil berkata  I have no idea. Dia hanya tertawa renyah dan gurih. Lebih renyah dari keripik pisang manapun di dunia ini.

“So, no black mask today?”

“Ha ha.”

Gilaaaaaaaaaaaa aku di-haha-in doang dong. Tapi aku rela pakai banget deh.

“Aneh ah kalian itu. Pengen sembunyi tapi malah pakai masker hitam. Jelas makin mencolok dong.”

“Terus harusnya gimana?”

“Pakai masker bengkoang aja sekalian. Atau masker mentimun.”

Lee Min Ho tersenyum geleng-geleng mendengarnya. Oya, aku belum bilang ya kalau dia menyetir mobilnya sendirian, tanpa manajer atau bodyguard. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya yang alamak ganteng kali nyetirnya. Ternyata korbannya ngerasa juga kecurian.

“Kalau mau motret aku bilang aja, nggak usah ditahan-tahan gitu.”

Hah? Motret? Astaga, aku bahkan bisa nggak kepikiran motret dia sama sekali. Kok bisa lupa gitu ya. Aku juga sampai nggak kepikiran menceritakannya ke teman-temanku, keluargaku atau siapapun di Indonesia. Padahal bisa aja aku selfie bareng terus upload ke social media. Jangan deh, bahaya banget. Dia bukan orang sembarangan. Aku nggak mau didemo jutaan  follower twitternya atau disumpah serapahi di forum-forum fangirling.

“Bukannya kamu yang pengen foto bareng sama aku? Ngaku aja deh. Nggak usah nuduh-nuduh,” ujarku padanya.

Surprise, aku dibawa ke apartemennya. Oh, please waktu jangan berjalan cepat-cepat. Lee Min Ho bilang sudah meminta tolong temannya menyiapkan sarapan. Aku hampir menjerit melihat siapa temannya yang sudah lebih dulu datang, Yoo Yeon-seok. Aku tahu tentangnya setelah menonton serial Warm & Cozy. Yeon-seok ramah dan ternyata dia benar-benar ahli memasak. Melihat Yoon Seok memasak secara live di depan mataku, jangan tanya bagaimana perasaanku. Rasanya ingin menjelma jadi rempah-rempah untuk membumbui hidupnya.

YS 01

Jadilah pagi ini kami bertiga sarapan masakan buatan Yeon-seok. Aku nggak tahu namanya, pokoknya enak, kenyang dan gratis. Setelahnya Lee Min Ho dan Yoo Yeon-seok terlibat percakapan tentang proyek pembangunan jalan tol dan irigasi sawah. Bukan ding, tentang proyek reality show nampaknya. Aku tidak terlalu paham karena mereka bicara dalam Bahasa Korea.

Let’s take picture together.

Aku memberanikan diri mengajak mereka berfoto dengan kamera handphone dan polaroidku, setelah kulihat gestur mereka jadi agak santai. Untungnya mereka mau. Padahal aku sudah bersiap sembunyi di dalam kulkasnya Lee Min Ho yang super besar jika mendapat penolakan. Pedih man penolakan itu. Ha ha.

“Jadi kemana saja rencana kalian hari ini?”

Yoo Yeon-seok nampak bersiap pamit. Aku menimbang-nimbang ingin minta kontaknya tapi aku malu. Lagipula kayaknya nggak segampang itu dia memberikan kontak pada orang asing. Kuurungkan niatku. Aku ingin memintanya say something ke temanku yang cinta banget sama dia. Tapi apa kabar kalau video itu tersebar dan jadi viral. Bisa mengguncang dunia persilatan nanti. Ah sudahlah.

“Belum tahu. Mungkin di sini saja. Kamu tahu kan fans dan wartawan jaman sekarang makin menyeramkan. Aku selalu insecure dimanapun berada. Bahkan saat masuk apartemenku sendiri. Bisa saja mereka menyelinap masuk.”

“Ha ha. Sing sabar yo cak. (eh salah subtitle).

“Ha ha. Itu semua karena popularitasmu. Memang ada harga mahal yang harus dibayar untuk kesuksesan. Tapi aku harap kalian bisa bersenang-senang hari ini. Aku pergi dulu.”

Yoo Yeon-seok menghilang dari balik pintu apartemen. Omoo! Hanya tinggal kami berdua di apartemen ini. Aaaaakkk aku harus apa. Bagaimana kalau tiba-tiba …

Tiba-tiba manajer dan bodyguard Lee Min Ho menyeruak masuk ke dalam apartemen. Huft. Antiklimaks banget sih.

“Mau kopi?”

Lee Min Ho menoleh ke arahku yang menawarkan kopi ke manajer dan bodyguardnya. Yeah aku harus merebut hati si manajer dan bodyguard supaya aku bisa dekat sama Lee Min Ho.

“Memangnya kamu tahu dimana letak kopi?”

Aku menggeleng.

“Nggak tahu.”

“Kok nawar-nawarin?”

Lee Min Ho bertanya heran.

“Eh, iya ya, kenapa nawar-nawarin. Namanya juga usaha sih. Basa-basi doang. He he.”

Manajer dan bodyguardnya menatapku dengan tajam dari atas ke bawah. Buseeeeet aku berasa maba diospekin. Tapi jangan banding-bandingin sama dek Suzy deh. Meskipun kami berdua sebelas dua belas alias sebelas ribu sama dua belas milyar. Jauh.

Lee Min Ho memberitahukan kami akan menghabiskan waktu disini saja. Jadilah seharian kami nonton film dan main video games.  Kami juga memesan ayam goreng satu ember (bye diet!) dan meatlover pizza.  Aku jadi ingat di grup chat sempat membahas dengan teman-temanku tentang Lee Min Ho yang gesturnya nampak jaim. Dan menurutku ada benarnya. Dia seorang pemalu sekaligus bersikap jaim. Mungkin karena dia dituntut memiliki clean image jadinya terbawa juga sampai kesehariannya. Benar-benar pria bermanner. Cocoklah kita bang, kamu pemalu aku malu-maluin. :3

Saat makan ayam goreng aku sengaja banget makan saosnya belepotan. Ha ha.

Bayangan :

“Sebentar, ada saos di bibirmu.”

Terus diusap pakai jarinya. Atau dibersihkan pakai yang lain juga boleh sih. Hmm, misalnya pakai tissue atau saputangan.

Kenyataan :

“Makan kok berantakan banget. Bersihin tuh saosnya.”

Uhuk! Baiklah. Ternyata jurus ala film Korea ini tidak berhasil. Terus ngapaiiiiiiiiin mereka bikin adegan macam ini kalau kenyataan nggak bisa dipraktekkan.

(To be continue)

*Maaappp penulisnya angin-anginan. Ho ho. Semoga suka😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: