Dating Him. (Part 1)

Kira-kira sudah limabelas menit aku berputar-putar di dalam toko ini. Mataku menjelajah dari satu rak ke rak yang lain. Sembari memotreti beberapa CD album seperti 2PM, SNSD, EXO dan entah apa saja yang dititip teman-temanku dan saudaraku. Setelah kupotret kushare gambar-gambar tersebut melalui grup chat supaya mereka bisa memilih sendiri mana yang mereka mau. Sementara aku sendiri tidak terlalu mengidolakan grup musik tertentu. Hanya tahu dan suka mendengarkan saja. Kalau favoritku justru film-film dan drama Korea. Meskipun semakin hari aku semakin tidak hafal siapa saja pemainnya saking banyaknya.

Hari ini memang aku khususkan untuk mencari oleh-oleh dan titipan, sementara lusa aku sudah harus terbang kembali ke Indonesia. Ah, quick escapeku di Seoul selama 5 hari ini benar-benar terasa cepat. Aku berlibur kemari bersama dua orang sahabatku. Tadi sore baru saja mereka melanjutkan liburannya ke Tokyo, sementara aku memilih tidak ikut.
Ini keempat kalinya aku sampai di rak film dan drama, masih tidak tahu mau beli yang mana untuk diriku sendiri. Kenapa kalau memilih untuk diri sendiri rasanya susah sekali. Kuambil satu CD drama Korea sambil senyum-senyum sendiri mengamati covernya. Aduh kapan aku bisa ketemu kamu, padahal empat hari ini seluruh penjuru Seoul sudah kuubek-ubek.

“Do you love that guy?”

“Yeah, a lot.”

Aku memberikan jawaban dengan penuh semangat. Masih sambil memandangi CD di tanganku dan senyum-senyum genit. Bahkan aku tidak menoleh ke arah si pemilik suara yang barusan bertanya dan berdiri tepat di belakangku.

“What will you do if you meet him?”

“I will totally die. Yes, I am dying because I can’t meet him but I will die once I meet him.”

Si pemilik suara tersebut nampak menahan tawa.

“So, why are you still alive now?”

Kutengokkan kepalaku dengan cepat dan … hell, I die right now! Si pemilik suara itu, pria dengan tinggi badan 180cm lebih, suara yang kuhafal, serta senyum yang persis sama dengan cover CD film di tanganku. Tidak ada adegan CD jatuh dari tangan ala FTV. Karena aku tidak mau disuruh mengganti kerusakan barang. Mukaku, aku lebih mengkhawatirkan mukaku yang pastinya sudah menjelma mirip kepiting rebus.

“Hi!”

Dia tersenyum menyapaku. Lee Min Ho tersenyum padaku. Jangan-jangan aku sudah gila, saking delusionalnya bahkan setiap oppa-oppa Korea yang aku lihat bentuknya jadi mirip Lee Min Ho. Aku ikut tersenyum sambil berpikir apa yang sebaiknya dilakukan seorang fans yang bertemu idolanya. Memeluknya erat-erat? Mencubitinya? Berteriak kegirangan? Atau pura-pura pingsan aja biar ditolongin. Aku celingukan melihat di toko ini hanya ada aku, 3 orang penjaga toko, Lee Min Ho dan dua orang lain yang mungkin bodyguard dan manajernya. Lho pada kemana pengunjung yang lainnya. Ternyata tanpa aku sadari toko ini sudah tutup. Mungkin tadi penjaganya tidak melihat saat aku berjongkok memilih CD di rak bawah. Terus ngapain gantengnya aku satu ini tiba-tiba nyasar disini. Too good to be true.

“Annyeong.” Satu-satunya kata yang terlintas di kepalaku.  Aku ingin mengajaknya foto bareng tapi gengsi ah masa cewek ngajak foto duluan. Lho? Yaiyalah siapa yang ngefans siapa coba kan.

“Darimana? Sedang berlibur atau tinggal di Seoul?”
(Percakapan dalam Bahasa Inggris) (Anggep aja Lee Min Ho udah fasih pakai Bahasa Inggris) (Namanya juga fanfiction) :p

Aaaah ternyata Lee Min Ho kepo sama aku. Ha ha.

“Indonesia. Yap, sedang berlibur di Seoul. Lusa sudah harus kembali ke Indonesia.”

Lee Min Ho mengangguk-angguk. Aku tahu dia pasti mengangguk-angguk bingung. Tidak tahu dimana Indonesia itu. Meskipun sudah pernah ke Indonesia untuk fanmeeting aku sangsi dia masih mengingatnya.

“Perlu aku tandatangani CDnya?”

Entah menggodaku entah serius. Tapi senyum jahilnya membuatku sesak nafas dan susah payah menahan diri tidak memeluknya. Mas-mas kamu sadar nggak sih kamu itu peluk-able dan nikah-able. Oke bumi memanggil. Roger!

“Ha ha. Terimakasih. Nggak usah repot-repot. Aku nggak mau membelinya kok. Cuma mau lihat seberapa jelek muka pemeran utamanya, makanya aku pandangi lama-lama.”

“Bisa ya jatuh cinta setengah mati sama orang yang mukanya jelek?”

Aku melotot pada Lee Min Ho. Kapan lagi kan bisa melototi dia seperti ini. Duh mas, tak bawa ke kasir tak bayar lho kamu.

“Cinta kan memang aneh dan absurd.”

Lho ngapain juga kan aku curhat malahan ke dia. Salah, ini sangat salah, ini bukan percakapan yang benar antara seorang idola dan fansnya. Tapi ternyata keabsurdanku ini memang sudah mendarah daging dan terbawa kemana-mana.

“Omong-omong ngapain aktor sekelas kamu main kesini?” Memangnya kemana pacarmu si mbak Suzy, sambungku dalam hati dengan penuh kedengkian dan kecemburuan yang membara tapi pura-pura cool.  Rupanya Lee Min Ho pelanggan tetap toko kaset dan CD ini. Karena tempatnya tidak terlalu ramai dan dia diperbolehkan datang setelah jam tutup toko.

“Aku tidak bisa menonton film di bioskop seperti orang-orang lain. Jadi aku memborong banyak CD film dan menontonnya di apartemenku.”

“Ah memang berat kehidupanku orang terkenal,” ujarku mendesah sembari menghela nafas panjang.

“Kamu artis juga di Indonesia?”

Ha ha. Dia salah duga. Dikiranya aku terkenal di Indonesia. Padahal apalah aku ini, cuma rakyat jelata yang liburan aja nunggu promo maskapai penerbangan. Aku menjelaskan kalau aku hanya berempati pada orang-orang terkenal karena dulu pernah jadi wartawan. Jadi sedikit banyak aku tahu bagaimana susahnya hidup normal seperti orang lain.

“Aku mau pilih-pilih CD titipan teman-temanku dulu.”

Kusebutkan padanya daftar panjang CD yang harus aku beli.Setelah itu kami berbarengan membayar di kasir. Aku merasakan sedari tadi manajer dan bodyguardnya menatapku sinis dan curiga. Posesif amat sih. Ha ha. Aku tahu mereka pasti khawatir aku fans garis keras atau tiba-tiba berbuat sesuatu pada Lee Min Ho. Tenang pak, satu-satunya yang ingin kulakukan adalah membawanya pulang. Atau ikut kemanapun dia pergi. :p

“Menginap dimana?”

Di hatimu. Halah kumat kan. Untung aja nggak keceplosan gombal-gombal gitu. Bisa-bisa diangkut sama bodyguardnya terus dimasukkan bak sampah buat didaur ulang.  Kusebutkan nama sebuah penginapan plus lokasinya. Maaf oppa aku mampunya tidur di hostel kapsul. Saat aku sedang membalas chat teman-temanku di grup LINE tiba-tiba Lee Min Ho menarik handphone.ku lalu menscan QR Code LINE milikku.

Sebuah stiker LINE masuk ke notifikasiku. Rupanya dia mencoba mengirim pesan. Dasar narsis, dia menggunakan stiker bergambar wajahnya sendiri. Oke oppa aku nggak punya stiker bergambar wajahku sendiri. Apa aku harus mengirimkan stiker Syahrini biar kamu kaget denger ketawanya yang nggak banget itu?

“Besok mau kemana?”

Asyik, Lee Min Ho tanya-tanya jadwalku. Curiga dia bakal ngajak aku ngedate. Eh tapi buruan jawab dulu, GRnya nanti aja dilanjut lagi. Aku bilang aku Cuma mau jalan-jalan di sekitaran hostelku, mau ke kedai kopi dan ke taman. Kemarin-kemarin sih ada teman-temanku. Tapi besok aku bakal mencicipi jadi solo traveller di Seoul.

“Nggak masalah kalau jadwalmu harus berubah? Kebetulan besok jadwalku off. Aku jemput besok jam 7 pagi di tempatmu menginap. Let’s have breakfast together. See you tomorrow.”

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk! Lee Min Ho ngajakin sarapan. Bubur ayam mamang-mamang pinggir jalan yang limaribuan pun aku rela. Pengen aku borong rasanya seisi toko ini. Tapi ingat! Duitmu bahkan Cuma cukup buat makan dua hari kedepan, nggak usah berkhayal aneh-aneh. Aku berkata pada diriku sendiri. Dia bilang jadwalnya off besok, kok bisa pas banget. Beneran nggak ada jadwal atau dicocok-cocokin ya. Apapun deh. Pokoknya aku harus segera balik penginapan dan bobok cantik demi kencan besok. Aku akan menolerir bule-bule bandel yang berisik sampai pagi. Aku akan mengacuhkan seorang cowok yang tidurnya mendengkur keras. Sepanjang jalan kembali ke penginapan aku senyum-senyum sendiri.

(to be continue)

*Yeaayy!! Part 1 dulu yaa. Ini nih hasil menerima tantangan mamah-mamah rumpi Korea :p si mba Novy, mba Kikie, sama mba Pipiet. Nulisnya sambil baper. Deg-degan sendiri. Senyum-senyum sendiri. Menguras emosi sekali. :3

5 responses

  1. Wkwkwkwwkkw ya ampun kamu masih idup ketemu LMH di toko CD?

    Aku mah udh melumer jdi jelly wkwkwwkwk
    Ide ceritanya menarik det, juga cukup enak dibaca kkkk

    Hey ini bisa dikembangkan lagi idenya. Kkkkk dan ditambah detail2 yg lebih menarik lg. Misalnya deskripsi tempat dan karakternya.

    Keep writing det ^^

    1. rugi kalo pingsan. haha.
      lhooooo tulisanku kan emang enak dibaca. wakakakkaa. takabuuuur. astaghfirullah.
      iya sih, perdana lhoo ini perdana.
      aku sek belom ahli mendeskripsikan detil-detilnya. >< Mohon bimbingannya suhu. *sungkem*

      1. Wkwkwkwkwkwkk kita kolab yuk. Jdi diskusi ceritanya apa trus mau kek gimana gitu wkwkwk aku pernah sama hil sama temen2 nulis ff yg lain juga ^^

      2. mauuuu .. aku belom pernah kolaborasi nulis.hihi. gitu itu 1 cerita keroyokan?

      3. Iyaaaa jdi nulisnya gantian. Kadang biar lebih seru kita ga tau yg pertama nulis tuh mau nulis apah. Jdi pas dikasih ke kita ya mau ga mau harus ngelanjutin wkkwkwwkwk yuuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: