Cerpen : Di Bawah Langit Berbintang

Di Bawah Langit Berbintang_crop

  Gambar di ambil dari sini.

At some point I want you to stay by my side. But at the other  side I wish that you go away. Those feeling keep confused me. Kalau ditanya mana yang lebih aku inginkan, aku tidak pernah tahu pasti jawabannya. Keduanya berperang sama kuat.

Aku tahu, aturannya adalah kita tidak boleh datang dan pergi sesuka hati dalam hidup orang lain. Begitu juga, kita tidak bisa  mempersilahkan dan mengusir pergi seseorang dalam hidup kita sesuka hati. Tapi pertarungan hati dan logika ini menyakitiku berkali-kali. Beberapa kali aku bertekad berhenti, namun dengan mudahnya aku goyah dan memutuskan bertahan sebentar lagi.

“Aku nggak mau kamu muncul lagi di depanku.”

Kalimat itu entah darimana asalnya meluncur begitu saja dari mulutku. Seketika aku menyesal mengatakannya. Tapi sudah terlanjur, mana bisa aku ralat. Diam-diam aku lega berani mengucapkannya.

“Oke aku janji nggak akan muncul lagi di depanmu. Aku bakalan mengendap diam-diam di belakangmu.”

Tuhkan, aku tahu pasti akan disanggah seperti ini. Untung saja aku tidak tertawa dan memukulinya seperti yang biasa kulakukan.

“Kal! Aku serius!”

Dia selalu tahu cara membuatku yang lagi emosi nggak jadi marah. Minimal harus sekuat tenaga menahan gengsi biar nggak senyum atau ketawa.

“Aku juga serius Ta. Bisa nggak sih ngomongnya yang bagus. Jangan ngomong yang jelek-jelek gitu ah. Terus omong-omong ini warung lho Ta. Tempat umum, kalau ngomong jangan keras-keras ah.”

Tanpa aku sadari suaraku tadi sempat naik beberapa desibel sampai beberapa pengunjung warung yang sedang makan soto ayam melemparkan pandangan tajam padaku. Kuaduk es tehku dengan kencang sampai isinya muncrat kemana-mana. Aku kesal pada diriku sendiri, atau sebenarnya pada apa. Kuteguk es tehku sekuat tenaga berharap mampu mendinginkan kepala dan hatiku. Gagal.

Tangan kananku dengan sigap mendarat di hidung Kal. Nampaknya kali ini dia sedang lengah karena aku sukses menarik hidungnya yang langsung disambut dengan amukan. Kal benci aku memegang hidungnya. Ketika aku tanya kenapa, dia bilang nggak suka aja. Aku jadi curiga sebenarnya hidungnya pesek lalu disuntik silikon, makanya nggak boleh dipegang karena dia takut rusak.

“Curang ah! Masa kamu boleh tarik hidungku tapi aku nggak boleh. Licik.”

“Lho, aku kan nggak tarik hidungmu, tapi pencet.”

“Terserah deh.”

Aku mendengus kesal. Kami berdua berbaring di halaman depan rumahku sambil menatap langit hitam yang ditaburi bintang-bintang. Awalnya aku ingin berbaring langsung di atas rumput tapi ideku ditolak mentah-mentah.

“Nggak ah kalau tiduran di rumput. Kotor semua baju kita nanti. Rambutku juga nanti kotor.”

“Yeeee cowok kok takut kotor.”

“Biarin. Pokoknya aku nggak mau tidur di rumput, kalau kamu mau nggak papa deh kamu aja.”

Jadilah kami berdua berbaring di atas matras yang kuambil dari dalam rumah. Awalnya Kal mengejekku kebanyakan nonton film Korea ketika aku mengusulkan kami tidur-tiduran berbaring di halaman sambil lihat bintang.

“Romantis Kal.”

“Ini namanya ironis. Di dalem rumah lebih enak. Lebih nyaman. Banyak nyamuk di luar.”

Kal mengomel tapi tetap membantuku memindahkan matras ke halaman. Mungkin aku bosan dengan aktivitas nongkrong di warung bakso atau kedai kopi dan sesekali ke toko buku. Ketika baru berbaring beberapa menit ternyata Kal benar, nyamuknya lumayan banyak. Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja.

“Tunggu bentar ya.”

Aku beranjak masuk ke dalam rumah.

“Jangan lama-lama Ta. Awas ya kalau kamu kabur. Dan jangan sampai kamu ketiduran lagi.”

Ha ha. Rupanya Kal ingat saat aku meninggalkan dia sendirian di teras rumah dengan kucing-kucingku sementara aku malah ketiduran di dalam rumah. Padahal niatnya Cuma mau rebahin badan bukan tidur, apalah daya nasi sudah menjadi bubur.

“Nggak janji ya.”

Kuambil dua buah selimut tipis. Kusempatkan berbelok ke dapur dan membuat secangkir kopi hitam serta secangkir coklat panas. Kopi hitam untukku dan coklat panas untuk Kal. Orang-orang pasti akan heran melihat kami berdua yang selerang terbalik. Aku perempuan pecinta kopi, sementara Kal adalah laki-laki yang not so into caffeine.

Sejak saat itu aktivitas memandang bintang jadi opsi saat kami sedang malas keluar uang buat nongkrong di luar. Sambil bercerita mengenai apa saja. Sambil menghitung bintang yang tak terhingga jumlahnya. Sambil pura-pura mengajukan permohonan pada bintang.  Sambil tertawa tak karuan sampai mama keluar dan menegurku.

Berapa lama ya aku tertidur disini. Ya ampun kenapa nggak ada yang membangunkanku. Jam tanganku menunjukkan pukul 9 malam. Dua jam aku tidur di antara tanaman-tanaman mama dan tak seorangpun mencariku. Huaaaaaa… Untungnya nggak bablas sampai pagi. Bisa-bisa aku ikut disirami seperti bunga-bunga dan tanaman di halaman. Lampu LED handphoneku berkedip, menandakan ada notifikasi. Duapuluh panggilan tak terjawab, 5 SMS, chat di Whatsapp, BBM dan LINE, semuanya dari Kal. Aku mendesah. Sudah seminggu aku menghindarinya.

Kupandangi lautan bintang yang terhampar di langit. Masih sama banyaknya. Tetap sama terangnya. Ah, diam-diam aku rindu berbagi cerita dengan Kal. Tapi sekali ruang dan waktu itu terpakai, maka tidak akan pernah bisa disinggahi lagi. Karena waktu terus berjalan, semuanya menjadi masa lalu, sisanya berbentuk kenangan. Sebenarnya aku kabur dari apa? Sampai kapan? Akupun tidak bisa menjawabnya. Aku benci Kal yang berulangkali menyakitiku, tapi aku lebih membenci diriku sendiri yang berulangkali menyakitinya.

Maybe we’ll gonna be OK as long as we live under the same sky. Right, Kal?

*Finallyyyyyy jadi juga. Huh hah. Ide sih banyak, nulisnya malas. Ditulis sih, tapi di dalem kepala. Ha ha. Gitu aja terus. Liaaa aku pinjem gambarnya kamuuu. Nah, jadi sebenernya dari jaman-jaman puasaan kemarin saya suka ngeliatin sahabat saya yang berbakat ini ngegambar-gambar terus diupload  di instagramnya. Terlintas ide, ah Lia kan suka gambar, saya suka nulis kenapa nggak menjadikan gambarnya yang indah sebagai ilustrasi tulisan abal-abal saya. Biar tulisan saya ikutan indah juga :p Go check her instagram account here. 

2 responses

  1. Ceritanya bagus🙂 kirim ke majalah

    1. Hehe . Ide bagus mbaaa.. Semogaaa redaksinya baik hati mau nerima :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: