Ilmu Mengingat (dan Menyindir)

“Kamu adalah pengingat dan penyindir yang hebat.”

Pernyataan yang ditujukan ke saya tersebut sukses membuat saya tersenyum simpul. Kok tersenyum simpul? Soalnya banyak yang bilang kalau saya nyengir jatuhnya serem. :p Oke, bukan gitu. Saya nggak tahu harus menganggap ini sebagai berita baik atau berita buruk. Tapi saya memilih menganggapnya sebagai pujian😀 Horeeee!!! Jarang-jarang dibilang gitu soalnya.

Saya pun mengiyakan bahwa saya memang orang  yang cukup detil mengingat momen bagian per bagian bahkan secara runtut. Itulah kenapa saya bisa menceritakan lagi kejadian plus percakapan yang terjadi secara lengkap. Sampai kalimat yang diucapkan pelakunya saya bisa menirukan dengan persis. Sebenernya nggak hebat-hebat amat karena saya yakin banyak orang bisa melakukan hal yang sama.

“That’s why, it’s make me a journalist anyway.”

Bukannya kesal tapi narsis saya makin menjadi-jadi. Ampuni Hamba Ya Allah. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin hal inilah yang membuat saya (pernah) jadi jurnalis. Berguna saat saya harus wawancara narasumber atau menelepon artis. Saya nggak pernah merekam percakapan saya dengan narasumber (karena jaman itu belum musim smartphone). Juga nggak menuliskan semua omongannya secara detil . Palingan saya dengerin dengan seksama dan catat poin pentingnya. Tiap penulis punya gaya mencatat masing-masing oleh karena itu jangan harap kami bisa membaca terus ngerti maksud catatan satu sama lain :p

Salah satu pelajaran yang saya dapat dulu memang saat mewawancarai usahakan narasumber tidak merasa sedang diwawancarai atau diinterogasi. Buat seakan kita sedang ngobrol santai. Soalnya kalau kita terkesan tulus ngobrol malah info yang didapat mengalir lebih banyak. Jadi misalnya saya pengen tanya pendapat penonton basket tentang pertandingan, saya jalan-jalan di tribun. Lalu duduk di sebelah penonton yang keliatannya heboh atau serius nonton. Terus saya ajak ngobrol-ngobrol aja. Baru setelah selesai ngobrol saya tanya identitasnya (penting untuk tidak asal menuliskan identitas fiktif) dan membuat catatan. Begitulah ilmu wawancara yang saya dapat. Ho ho.

Jelas bahwa punya ingatan kuat berguna buat memutar ulang rekaman di kepala kita lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Jangan sampai aja orangnya bilang A kita nulisnya malah E karena nangkepnya E. Yeaaa mungkin itulah yang sibuk dilakukan para jurnalis jaman sekarang. Memelintir fakta sesuka hati. *emosijiwaragalahirbatin*

Nah, untuk pujian kalau saya tukang sindir yang hebat tentunya idung saya kembang kempis bangga. Kan nggak semua orang bisa nyindir dengan dahsyat. Ha ha. Kalau bisa nyindir kenapa harus nggak nyindir. Eh nggak gitu juga ya?  Sebenarnya menyindirpun kadang konteksnya karena saya lagi kumat usil. Tapi bisa juga itu adalah jengkel terselubung. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: