Keki Setengah Mati

“Weak people seek revenge. Strong people forgive. Intelligent people ignore.”

“Revenge is not in my plans. You’ll f*ck yourself on your own.”

“The true mark of maturity is when somebody hurts you and you try to understand their situation instead of trying to hurt them back.”

“But the weakest person is the one who holds anger, hatred, and revenge.”

Aslinya sih, saya bukan orang yang suka menye-menye mengumbar kehidupan terlebih masalah pribadi saya ke publik. Ah jangankan ke publik, ke orang-orang terdekat juga saya bukan tipikal suka mengadu sih. Masalah di sekolah atau tempat kerja ya biarkan saja disitu. Nggak dibawa ke rumah. Masalah di rumah juga biarkan saja sebatas tembok rumah, nggak dibawa ke kantor atau ke pergaulan. Kenapa gitu? Ya namanya juga rahasia. Kalau dikasitau kemana-mana bukan rahasia lagi dong. Termasuk ketika orang bercerita tentang aib atau masalahnya ke saya yauda biarkan itu sebatas sampe di kuping saya aja. Makanya mungkin orang suka misleading ketika saya nulis status BBM ini, nulis twit itu, seringkali sebenernya itu saya lagi memposisikan diri jadi orang lain. Tapi dikiranya saya lagi kenapa-kenapa😀

Saya bersyukur di sekeliling saya banyak orang-orang baik. Alhamdulillah. Artinya secara tidak mereka sadari mereka mengingatkan saya untuk tetap on the track, mereka memotivasi saya, memberi dukungan dan menghibur saya. Dengan kami bercakap, bertukar cerita dan berdiskusi itu sudah membuat saya mensyukuri hidup. Soalnya sebenernya kami-kami semua ini punya ujian masing-masing dalam hidup kami.

Amat naif menurut saya, ketika orang mengira hidup kita sempurna dan bahagia! Sangat salah kalau kita mencap hidup seseorang sempurna. Tapi betul, kami selalu bahagia karena kami memilih untuk bahagia. Meskipun sebenernya kamipun punya opsi buat jadi berandalan, bertingkah brutal, terpuruk, merana, merusak diri sendiri. Menurut saya sangat mudah melakukan itu semua. Tapi saya tidak suka. Menurut saya itu sangat tidak bertanggungjawab. Selain tidak ada gunanya juga hanya menimbulkan penyesalan. Sok suci? Sok baik? Yaela, another stupidity and negative energy banget. Dibilang semua itu masalah pilihan kok.

Kemudian saya mencoba mengingat-ingat lagi serangkaian jalan hidup yang dialami oleh kami. Saya dan teman-teman saya yang saya kenal, yang bercerita langsung ke saya maupun saya jadi saksinya.

Us, struggling from so many things yang mungkin hanya bisa dibaca di buku atau ditonton di film oleh sebagian orang.

  • Terbelit hutang ratusan juta
  • Ditipu rekan kerja sampai harus jual harta benda
  • Orangtua yang sakit keras dan harus keluar masuk rumah sakit
  • Ayah yang kabur dengan perempuan lain dan tidak pernah kembali
  • Ibu yang tidak berhenti berselingkuh
  • Mendapat vonis kanker payudara
  • Mendapat vonis tidak bisa punya keturunan
  • Mendapati ayahnya menikah lagi dengan gadis seumurannya
  • Ayah ibu meninggal dalam kecelakaan saat kecil
  • Ibu yang kabur dengan tetangga sendiri
  • Saudara kandung yang merongrong minta uang
  • Saudara yang bercerai dan meninggalkan anaknya akhirnya kita asuh
  • Saudara yang tidak tahu malu jadi parasit
  • Saudara yang menggadaikan sertifikat rumah orangtua
  • Kontrakan rumah yang harus segera dibayar
  • Orangtua yang terbelit kriminal
  • Ayah yang dipenjara
  • Ibu yang banyak menuntut secara finansial
  • Saudara yang tak kunjung lulus kuliah
  • Saudara yang jadi pengangguran dan meminta-minta
  • Tagihan kuliah yang mahal dan harus segera dibayar
  • Gali lubang tutup lubang demi bayar hutang
  • Kenyataan bukan anak kandung orangtua
  • Menjadi sasaran kemarahan orangtua sejak kecil sampai besar
  • Menjadi anak di luar nikah
  • Orangtua yang terancam bercerai, bahkan sudah bercerai
  • Jadi tulang punggung keluarga inti, bahkan keluarga besar
  • Masalah finansial yang rumit. Banyak hutang, banyak kebutuhan.
  • dan deretan jalan hidup lain yang susah dibayangkan tapi nyata.

Saya merenung tadi malam. Masalah keluarga, masalah finansial, masalah kerjaan, hal-hal itu tidak datang satu-satu. Tapi kata orang, sudah jatuh tertimpa tangga, kesiram aer comberan, eh dimaki tetangga pula. Klop! Komplit!
Pertanyaan kenapa ini harus kita alami rasanya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Jawabannya satu kalau versi saya, kita dipilih karena kita yang dianggap mampu menanggungnya. Orang lain belum tentu. Dan bisa juga mereka menanggung beban lain yang kita nggak pernah tahu.

Lalu saya tersenyum mengingat bahwa semakin kita besar maka makin aneh-aneh saja masalah itu. Makin campur-campur, makin panjang daftarnya. Kadang kita merasa capek, merasa butuh sandaran. Tapi kemudian kita akan bangkit lagi dan mencari alasan untuk terus berjuang. Nah, misalnya nih, di kantor ada yang sirik menghambat kerjaan, eh pulang ke rumah ortu ngadu ini itu, lalu tiba-tiba saudara ribut-ribut kita keseret, belum kelar temen dateng nangis-nangis minta tolong. Ruwet kan? Banget. Terus gimana? Jalani aja. Semua itu akan mendewasakan kalau kita ikhlas dan tawakal.

Lalu, hubungannya apa sama quotes di atas? Jujur saya orangnya paling anti sama drama remeh temeh. Orang yang nangis-nangis cuma gegara hal sepele. Karena patah hati lantas dia berusaha membumihanguskan orang yang bikin dia patah hati. Menuntut balas. Terus hanya karena orang yang dia harapkan terlihat lempeng terus dia ngatain orang itu gapunya hati. Nonsense. Kepahitan hidup yang sangat pahit akan membuat sebagian orang jadi kebal dengan drama aneh gapenting. Jadi males berurusan dengan hal sepele. Karena banyak sekali yang harus diperjuangkan yang menyangkut kemaslahatan orang banyak. Bukan cuma merajuk minta diperhatikan. Cengeng! Kamu nangis-nangis gara-gara diabaikan seorang cewek padahal ada yang lagi nangis-nangis karena bakal diusir dari rumah mereka. Jadi bodoh kalau kamu menganggap dirimu yang paling merana. Yaaaaa terus aja gitu. Kamu bilang kamu cinta tapi yang kamu lakukan adalah mengusik hidup orang lain. Yakin itu cinta? Mana bisa anak orang menitipkan masa depan dan hidupnya ke orang kayak gitu.

Hubungannya sama revenge apa lho? Gini deh ya .. siklusnya idup emang gitu. Kadang kita nyakiti, kadang kita disakiti. Ya bukan berarti sengaja dan secara sadar juga. Terus misalnya sejak kamu lahir ternyata ortumu nyakitin kamu sepanjang hidupmu, apakah lantas kamu punya hak nyakitin ortumu? Kalo saya sih nggak setuju. Tugas anak ya berbakti sebaik-baiknya, seburuk apapun perlakuan ortu ke kita. Susah? Pasti. Sama juga, ortu yang sudah mendidik anaknya sedemikian baik, tapi anaknya malah jadi nakal, jadi begajulan, apa ortu terus balas dendam ke anaknya? Kita nggak akan berhenti menyayangi kalau memang itu bener-bener unconditional love. Nggak mungkin banget nyakitin orang yang kita sayangi. Big NO! Bukan ngaku-ngaku punya cinta segede samudera tapi malah berniat menenggelamkan kita ke dasar samudera bersama bangkai kapal dan hewan laut lainnya. Perlu ditanya lagi perasaan macam apa yang sebenernya ada.

Kemarahan? Menuntut balas?
Mungkin kamu sudah merasa kamu utusan Tuhan yang dikirim untuk menimbang dosa-dosa umat manusia. Ada nggak surat perintahnya? Padahal lucunya, orang-orang tipe begini puwaliiiiiiiing anti hidupnya diusik. Marah-marah kalau ada orang nanya. Dikatain kepo. Kalau ada orang pengen tahu dibilang nginjek-nginjek privasi orang lain. Cieee…padahal sendirinya nggak cuma nginjek. Malah udah ngobrak-ngabrik meluluhlantakkan menelanjangi privasi orang lain nggak karu-karuan. Nggak suka diusik tapi mengusik. Kasihan.

“Aku benci liat kamu ketawa-ketawa sama orang lain.”

Ciri-ciri orang yang pikniknya kurang jauh. Sana kalau piknik yang jauuuuuuh gausa balik gapapa. Daripada dikit-dikit bikin rusuh. Ya ngapain mosok nangis-nangis sama orang lain. Bagi-bagi itu kebahagiaan, bukan bagi-bagi penderitaan dan kesedihan. Norak ah. Real gentleman would try to move on and build success, not threatening other. 

Jadi, ya betul, saya muak dengan orang-prang yang sibuk ngurusin hal-hal nggak penting (oke mungkin penting buat dia), tapi saya kagum dengan orang-orang yang bisa tersenyum dan memaafkan orang yang melukai mereka. Saya cuma heran, bahwa mereka yang suka nyumpahin orang kualat dan kena karma itu mungkin lupa kalau seringkali yang mereka perbuat tidak lebih baik dari orang yang (menurut mereka) sudah nyakitin mereka.

4 responses

  1. cerita atas pengalaman sendiri ya? atau atas nama ahli waris? :v😀

    sabar neng..
    org sabar cepet naik haji..hahaa Aamiin

    1. Ha ha ha. Atas nama ahli waris sis. Wah saya belom naik haji berarti emang kurang sabar :p

  2. yg nyumpah2in mungkin lupa pernah bikin orang lain sakit hati juga

    1. Kalo buat dia mungkin nyumpahin orang itu nggak nyakitin.
      Atauuuuu … dia boleh nyakitin orang lain enggak. ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: