Sahur, Cerita Bu Kos dan Luar Negeri

Hai, ini saya si anak rantau yang sedang menjelma jadi pemudik Lebaran. Tulisan ini saya buat diatas kereta api Argo Wilis yang membawa saya dalam perjalanan Bandung-Surabaya. Jarak tempuh sekitar 680 km dengan waktu tempuh 12 jam. Oiya ini tahun kedua saya jadi pemudik.

Suka duka mudik? Dukanya palingan harga tiket yang merampok THR saya. Ha ha. Sukanya banyak dong. Ketemu keluarga. Absolutely. Karena sudah nggak tiap hari bisa ketemu, momen tersebut jadi sangat berharga. Terus bisa merasakan rindu rumah. Surabaya dan seisinya yang dulu mungkin biasa aja.

Duabelas jam di kereta bagi kebanyakan orang akan terlihat menyiksa, membosankan dan matigaya. Iya juga sih, tapi mending lho naik eksekutif cuma 12 jam. Kalau naik bisnis waktu tempuh bisa 15 jam, bahkan ekonomi 17 jam. Buang-buang waktu, gitu kata orang. Capek di jalan. Bisa jadi.

Well tapi sejak kereta jadi pilihan utama sekarang saya malah bisa menikmati perjalanan ini. Selama berbelas-belas jam di kereta saya jadi punya waktu tidur.Saya bisa mengamati penumpang di sekitar saya. Bisa punya waktu memikirkan ini dan itu. Yeah i am an observer and analyzer. Hari ini saya sudah siapkan beberapa judul film di tab, juga e-book dan e-magazine. Endingnya apa coba? Separuh perjalanan saya merem terus. Ha ha.

Naik kereta juga semacam gambling. Kita mempertaruhkan nomor kursi karena kita tidak tahu siapa disebelah kita. Beberapa kali saya dapet penumpang yang ngeselin, biasanya karena pose tidur dan duduk yang sembarangan. Tapi kalau beruntung saya bisa ketemu partner ngobrol yang menyenangkan. Sebelah saya tadi seorang adek-adek lulusan STM asal Kebumen yang baru beberapa bulan kerja di Cikarang. Dia ngirain saya masih mahasiswa lho. :p Dia turun Kutoarjo dan sekarang sebelah saya kosong.

Tadi pagi saya kira bakal sahur sendirian karena memang penghuni kos lainnya tepatnya 2 biji teman saya sudah mudik duluan. Ternyata saya sahur ditemani ibu kos. Sungkan juga sih. Tapi lagi-lagi saya merasa beruntung karena bisa mendengar cerita beliau.

Bu kos saya seorang nenek berusia 85 tahun yang masih sehat wal afiat. Segar bugar. Dengan penglihatan jelas karena masih bisa mengenali orang. Pendengaran juga bagus. Bahkan jalannya saja masih bisa tegap. Ibu dari 5 orang anak, 11 cucu dan 1 cicit. Cucunya sudah besar-besar, yang terkecil saja sudah SMA.

Anak pertama berdomisili di Jakarta, anak kedua di Bandung dan 3 lainnya di Kanada beserta keluarganya. Saya penasaran gimana ceritanya anak-anaknya hijrah ke Kanada. Beliau bercerita sepeninggal suaminya pada tahun 1999, anak ke 3nya memutuskan memboyong keluarganya ke Kanada karena ingin anak-anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik. Jejak anak ke-3nya diikuti oleh anak ke-4 dan ke-5 yang ikut memboyong keluarganya ke Kanada. Bu Kos saya memang sedikit berbeda, jika orang Sunda pada umumnya menganut istilah makan nggak makan asal kumpul sedangkan beliau berpendapat bahwa setiap orang bebas terbang setinggi mungkin mengarungi dunia yang luas.

“Ibu cuma bisa kasih bekal cangkul dan cara bercocoktanam. Selebihnya biar mereka memilih sendiri mau menyuburkan tanah yang mana. Yang penting sudah tahu caranya,” tutur Ibu Kos dengan bijak.
“Ibu nggak papa kok meskipun harus tinggal di rumah sendirian dan jauh dari anak-anak, kan ibu juga punya banyak kegiatan lain,” lanjut beliau.

Saya terharu sekaligus setuju dengan cara pandang beliau yang open minded. Meskipun usia beliau sudah kepala 8 alias 85 tahun namun beliau justru memiliki pemikiran modern. Beliau menceritakan cucunya yang baru lulus S2 dan akan lanjut S3. Kemudian beliau berpesan bahwa selagi saya masih muda maka saya harus mengejar mimpi sekuat tenaga.

“Kamu nggak pengen nyoba kuliah dan kerja di luar negeri?”
“Pengen banget ibu. Itu mimpi saya dari dulu, jadi ekspatriat di negara orang. He he. Keliatannya seru dan menyenangkan.”
“Nah, kamu minimal harus S2 ya. Kalau ada kesempatan jangan berhenti cari ilmu. Terus kalau luar negerinya pengen kemana?”
“Hm, mana ya Bu. Saya pengen Singapura aja. Deket soalnya. Pulangnya gampang dan nggak mahal. He he.”
“Singapura susah sih. Persaingannya ketat. Tapi ibu doain tercapai keinginan kamu.”

Saya mengangguk dan mengamini diam-diam dalam hati. Iya sih pengen, semoga jalannya ada. Makasi ibu for encourage me. 

===

Know what? Jadi postingan ini ditulis awalnya tanggal 16 Juli 2015 di atas kereta. Lalu terhenti karena ngobrol dengan teman seperjalanan. Lalu saya pusing karena nulis di kereta lumayan goyang-goyang. Dan postingan ini mengendap sampai hampir sebulan. Akhirnya selesai juga hari ini 13 Agustus 2015. Luarbiasa -____________-

===

Mari berbagi mimpi😉

2 responses

  1. Hampir sebulan jadinya ya haha

    1. Lhaiyaa aku jadi galau. Mau nerusin udah kelamaan. Mau nggak diterusin eman-eman udah terlanjur ditulis di notes hape😀 Tapi kebiasaanku gitu, punya ide diendapkan sampeeeeeeeeeeeeeeeeee kemudian lupa. T___T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: