Cerpen: It’s Crazy, It’s Love.

Kutekan tombol dial dengan lemas. Kurasa aku butuh pertolongan pertama saat ini. Pada situasi semacam ini tidak banyak orang yang bisa diandalkan, setidaknya yang aku percaya bisa segera datang. Terdengar nada panggil kemudian sebuah suara yang familiar mengangkatnya.
“Ada apa Ta?”

“Ndra.” Suaraku tercekat, aku ragu-ragu mengatakannya.

“Kenapa?”

“Ndra aku habis jatuh. Sakit banget.”

Mendengar kalimatku tersebut Andra langsung panik dan memberondongku dengan rentetan pertanyaan.

“Serius? Kamu dimana?  Kok bisa Ta? Aku susulin ya?”

Kusebutkan nama sebuah kedai es krim langganan kami. Aku bahkan tidak bertanya dimana Andra sekarang, apa yang sedang dia lakukan. Aku sibuk menahan rasa sakitku sendiri. Tapi dia berkata akan segera datang secepatnya.

Grandma’s Secret Recipe. Kedai eskrim ini tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk menikmati eskrim homemade dengan beragam varian rasa dan topping.

Tempat favoritku yaitu kursi-kursi kayu di teras dengan konsep outdoor yang masing-masing diberi payung lebar. Aku duduk menghadap ke jalan supaya bisa melihat kedatangan Andra. Tak lama kemudian, tidak sampai 15 menit Andra sudah menghambur masuk dengan muka panik. Dia langsung  menghampiriku.

“Ta, nggak apa-apa kamu?”

Kutatap Andra dengan pandangan memelas. Sambil mengedikkan bahu. Kurasa dia tidak mengerti maksudku, dahinya berkerut penuh tanda tanya.

“Duduk dulu Ndra. Mau pesen apa?”

“Ta, serius nih. Kok bisa jatuh? Mana yang sakit?”

Diabaikannya buku menu yang kusodorkan padanya. Ah, mulai deh tuan panik satu ini. Dia mengamatiku dari atas kebawah. Aku tampak kacau, muka pucat lengkap dengan mata panda. Tapi Andra tidak menemukan tanda-tanda orang yang habis kecelakaan.

“Mau eskrim peppermint favoritmu?”

Pertanyaanku diabaikan, kini mukanya  berubah dari khawatir jadi sebal.

“Beneran kamu nggak apa-apa? Ayo ke rumah sakit. Apa ke apotek aja? Mana yang luka sini diobatin dulu. Sempet-sempetnya nawarin eskrim. Mana yang sakit?”

“Sini.”

Kutunjuk ke arah dadaku.

“Aduh, perlu rontgen nggak?”

Aku tertawa mendengar pertanyaan polosnya.

“Ndraaaaa…aku jatuh hati sama Naren. Rasanya sesek banget disini.”

“Astaga! Jatuh hati? Naren?”

Aku takjub melihat ekspresi Andra yang bisa berubah dalam hitungan sepersekian detik. Awalnya dia menghela nafas lega saat tahu aku tidak benar-benar kecelakaan. Kemudian dia tampak menahan tawa dan sekarang dia sebal. Ditariknya pipiku sampai aku mengaduh kesakitan.

“Jadi nona Hanindita yang sedang jatuh cinta, kenapa kamu tega-teganya ngerjain aku?”

Kali ini giliran aku mengabaikan pertanyaannya. Terlebih dahulu kupesan eskrim peppermint sebagai sogokan agar Andra tidak berlama-lama marah padaku.

“Sama coklat panas satu mbak.”

“Buat siapa Ndra?”

“Kamu.”

Setelah si mbak waitress pergi Andra menjelaskan bahwa dia tahu aku sedang tidak dalam mood yang baik. Selain penampilanku yang mirip orang begadang 3 hari 3 malam, eskrim green tea milikku juga tidak tersentuh. Bahkan sudah mencair. Secangkir coklat panas bisa jadi moodbooster yang ampuh.

“Heran, dimana-mana orang jatuh cinta itu jatuhnya bahagia. Bukan malah kacau balau kayak kamu. Setauku cewek-cewek kalau jatuh cinta pasti rajin dandan, jaga penampilan, ini jadi awut-awutan. Beneran ada yang salah sama kamu.”

Aku melengos kesal. Andra tertawa makin kencang.

“Iya, aku emang lagi kacau. Jatuh cinta yang ini beda.”

What’s wrong with falling in love?”

“It goes wrong while you fall for the wrong person.

Kuaduk-aduk eskrim cair di hadapanku. Sejak kapan aku jadi nggak nafsu makan eskrim. Padahal biasanya dessert satu ini susah kutolak godaannya.

“Aneh Ndra. Biasanya aku nggak takut dengan perasaanku sendiri. Tapi yang ini beda. Aku … bahkan pengen menyangkalnya sekuat tenaga. Aku pengen menghentikannya. Semakin berusaha dihentikan makin sesak. I wish this kind of feeling towards him would never exist.”

Andra tersenyum. Sahabatku satu ini tidak pernah menertawakanku beserta kebodohan-kebodohanku. Satu waktu dia akan jahil minta ampun, tapi saat aku butuh tempat bercerita dia akan mendengarkannya.

The thing is sesakit apapun itu, sepahit apapun, cinta tetaplah cinta.”

Aku mengangguk-angguk setuju. Kuseruput perlahan coklat panas milikku yang sudah terhidang di meja kami. Hangat. Menenangkan. Sementara Andra sibuk menikmati eskrim favoritnya. Dasar cowok, kalau cewek pasti menyendokkan eskrimnya perlahan. Sedangkan dia baru beberapa sendokan sudah tandas.

“Yeah, saat ini aku merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Lecet-lecet dimana-mana.”

“Perlu dibeliin plester di apotek nggak?” Andra menggodaku.

“Huuuu…nyebelin. Tapi makasih ya Ndra kamu udah mau nemenin aku yang selalu bodoh dan kacau dalam hal percintaan.”

Everybody become stupid if it’s about love.”

“Right! Exactly. Aaaah kamu emang beneran kayak Superman buat aku. Pas aku lagi butuh kamu selalu nongol dalam sekejap. Bener-bener bisa diandalkan di segala situasi dan kondisi ih. Beruntung pacar kamu nanti, punya cowok siaga.”

Andra menatapku kali ini tatapannya jadi serius.

“Ta, the truth is … instead of being Superman, I’d rather be your man.

Eh.

“Ndra?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: