Si Antagonis Kronis

Secangkir hot cappuccino terhidang di hadapannya. Perempuan itu menimbang-nimbang sejenak melihat kopi favoritnya terhidang. Dia sedang bertanya-tanya apakah kopi tersebut sudah dihidangkan dengan komposisi susu dan kopi yang tepat. Serta yang tidak kalah penting adalah tingkat kehangatannya. Dia benci kopi yang tidak terlalu panas. Baginya itu menghilangkan kenikmatan dalam ritual minum kopinya.

Diminumnya perlahan dan raut mukanya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi karena wajahnya tidak berubah lebih masam maka kemungkinan besar dia merasa si barista berhasil memenuhi keinginannya. Kopi. Baginya kopi adalah salah satu penemuan terbaik di dunia. Dia sendiri lupa kapan pertama kali mengenal kopi yang kala itu sebatas kopi instan sachet. Sekitar masa-masa SMP atau SMA. Pada saat kuliah, kala dihadang banyak masalah dan tekanan, dia dapat lari pada berkaleng-kaleng kopi. Kemudian saat sudah bekerja, saat suntuk dia akan meminum secangkir cappuccino favoritnya. Dia akan memindahkan kesedihannya pada kenikmatan bernama kafein.

Perempuan itu, anak pertama dari dua bersaudara. Dulu sewaktu kecil dia tidak pernah tahu hal lain selain menjadi yang terbaik dalam segala hal, terutama prestasi di sekolah. Semua itu dilakukan demi membanggakan kedua orangtuanya dan menjadi contoh bagi adik perempuannya. Perempuan itu, mungkin orang akan mengatakan dia naif. Dia tidak suka membicarakan lawan jenis sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar.  Dia bingung mengapa teman-temannya harus suka dengan si ini dan si itu. Mengapa harus ada gosip si ini suka si itu. Jadian itu apa? Pacaran itu apa? Westlife itu siapa? Mengapa teman-temannya suka mengoleksi poster Backstreet Boys?

Beranjak dewasa dia mulai menyadari kegemarannya berorganisasi, kesukaannya berperan aktif dalam suatu kegiatan dan bahwa hidup tidak melulu soal jadi rangking 1 di kelas. Dia jadi tahu bahwa mimpilah yang membuat manusia tetap hidup. Mulailah dia menjadi seorang pemimpi. Di tambah dengan daya khayal tingkat tinggi bukan tak jarang orang mengatakan dia tukang ngayal dan tidak masuk akal.

Galak, judes, jutek. Rasanya sejak kecil sampai usianya sekarang sudah terlalu sering dia mendengar ‘pujian’ semacam itu terlontar untuknya. Awalnya dia marah, dia tidak suka dicap seperti itu. Namun semakin bertambah usia justru dia berbalik bangga dengan label yang terlontar padanya. Ya, vonis pada dirinya sebagai seorang gadis antagonis sudah sangat kronis. Itulah yang membuatnya makin gencar memposisikan diri sebagai si antagonis kronis. Lucu saja, saat kebanyakan orang berlomba mendapat gelar si baik hati, baginya dia punya peran si tidak baik hati. Slot peran protagonis banyak menjadi rebutan, sedangkan masih banyak slot kosong untuk peran antagonis.

Sejak kecil dia tidak segan berantem dengan teman laki-lakinya jika mereka berbuat nakal atau mengoda keterlaluan. Dia selalu berusaha menegakkan disiplin di kelasnya. Menjadi Ketua Kelas yang galak yang mengatur teman-temannya. Dia juga tidak segan menyampaikan pendapat jika dirasanya suatu hal tidak berada pada tempatnya. Dia tidak segan menegur orang yang berbuat kurang baik dengan tujuan membenarkan.

Banyak orang makin yakin dengan keantagonisannya lantaran wajahnya yang sering terlihat jutek, garang dan sombong. Untuk yang satu ini dia hanya bisa pasrah saja. Mau bagaimana lagi jika ini sudah menjadi template wajahnya alias dari sononya. Dia sadar bahwa hal ini seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Namun baginya kebaikan itu berasal dari hati. Bukan sesuatu yang perlu diumbar-umbar. Karena tidak ada maling ngaku maling, maka tidak perlu pula orang baik bersusahpayah mengatakan dirinya baik.

Pada saat dia masih sekolah dulu sang ibu tidak bosan mengingatkan, “Tersenyumlah sedikit nak. Wajahmu itu bikin orang takut. Jelek kalau jutek seperti itu.” Yang langsung disergahnya, “Justru itu Ma, aku takut kalau senyum nanti jadi cantik dan banyak orang yang suka.” Setelah mendengar jawaban seperti itu maka dapat dipastikan raut wajah keduanya langsung bertukar, si ibu berubah menjadi masam sedangkan ia justru nyengir lebar.

Ah iya, satu lagi sifatnya yang aku tahu, dia seorang narsis sejati yang hobi membuat orang sebal.

Prinsip hidupnya, nggak papa nyebelin asal ngangenin😉

*Tulisan ini diikutsertakan dalam proyek #30HariMenulis dan ajakan #NulisRandom2015

2 responses

  1. Tulisan kamu kren..
    salam kenal, mampir balik yaa…

    1. Iyaa, makasii.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: