Memahami Mertua, Memahami Menantu.

Saya, wanita lajang berusia seperempat abad. Belum jadi menantu sehingga kesimpulannya saya juga belum punya mertua. Entah mengapa malam ini topiknya begitu cocok, salah satunya mengenai problematika mertua dan menantu. Awalnya saya memiliki janji bertemu dengan teman-teman lama yang kebetulan sudah menikah dan akan menikah. Kemudian waktu sampai dikosan dan menonton salah satu channel TV lokal sedang diputar semacam FTV yang temanya lika-liku mertua dan menantu.

Oke, saya mau cerita dulu tentang alur cerita di FTV tersebut. Berbeda dengan FTV menye-menye cinta, yang ini bener-bener menyentil kehidupan kita sehari-hari. Saya yang nonton aja jadi pusing dan gemes sendiri. Ceritanya si menantu cewek ini adalah orang kota yang modern, tapi tipikal istri yang sensitif sama omongan tetangga. Sedangkan si ibu mertua merupakan orang desa kuno yang keras kepala. Jadi? Ya nggak ketemu dua-duanya. Berantem terus. Yang pusing tentu saja si suami.

Nggak ngerti deh, si istri ini tiap ada omongan tetangga dimasukin hati. Dinyinyirin dikit dibilang tega sama mertua, dia langsung ngamuk-ngamuk ke mertuanya. Gimana ya, mulut kita sendiri aja suka susah dikontrol apalagi mulut orang lain. Tapi kalau saya jadi menantu cewek daripada ngamuk ke mertua saya, mending saya sambelin mulut tetangga saya. Kayaknya nganggur banget gitu. Komentar mulu sama kehidupan orang lain. Ya komentar mah nggak papa asal nggak pakai ngompor-ngomporin dengan gaya culas ala-ala tukang gosip.

Endingnya si ibu mertua mengalah lalu pergi dari rumah dan tinggal di panti jompo. Di bagian ini saya pengen mewek, rasanya mak deg gitu. Ya Allah jangan sampai kami jadi anak-anak yang lalai dan mengabaikan orangtua kami. Jangan sampai ortu kami lebih betah di panti jompo ketimbang di rumah sendiri. Saya mikir, ya emang sih namanya orang makin tua makin rempong, makin susah dibilangin, besok-besok juga saya kayak gitu kali yašŸ˜€ Atau lebih parah rempongnya :p

Kemudian beralih ke teman saya yang mau menikah.
Dia mengaku keki berat, karena semakin kesini semakin banyak intervensi dari keluarga cewek. Nggak cuma dari kedua orangtuanya tapi juga dari keluarga besarnya. Hal tersebut menjadi salah satu keraguan dia dalam meneruskan rencana pernikahannya. Dia takut saat menikah nanti intervensi tersebut akan makin berlanjut. Ada masalah dikit nanti semua maju pasang badan. Fyuuh.

Ketakutan ini dibenarkan oleh teman saya yang sudah menikah. Memang tidak semua mertua akan bersikap seperti itu. Tapi kebetulan mertua dia termasuk tipe mertua yang suka mendikte di hampir semua aspek kehidupannya. Hm, mungkin salah satunya karena mereka masih menumpang di rumah si mertua. Gimana ya, bangun tidur, makan, mandi, mau tidur, semua kegiatan terlihat di depan mata. Jadi susah buat mengelak. Kemudian teman yang sudah menikah tersebut menyarankan untuk memantapkan hati lagi. Apalagi ini bukan pernikahan yang menghitung bulan, melainkan menghitung hari.

Dalam sebuah hubungan yang serius memang bagusnya jangan cuma ahli membuat pasangan jatuh cinta, tapi juga buatlah ortu pasangan kita jatuh cinta pada kita. Jangan cuma mau sama anaknya doang, itu sih mau enaknya sendirišŸ˜€

293 150p-01

Menyayangi mertua kita seperti menyayangi ortu kita sendirišŸ™‚
dan semoga para mertua juga tidak menjadikan kita sebagai saingan dalam memperebutkan perhatian anaknya.

Ah gini ya topiknya sekarang sudah bergeser. Semakin banyak obrolan tentang hubungan, pernikahan dan anak. Jadi makin banyak belajar. Saya cuma bisa bilang ke teman saya yang mau menikah, menikah itu harus bahagia. Bukan terpaksa. Karena menikah itu untuk selamanya.

Oiya, mau masukkinĀ chatting-anĀ saya sama si pacar. Soalnya jarang-jarang kita berdua bisa ngomong serius diantara ketidakseriusan yang lebih sering terjadi. Intinya begini,

Orang laki-laki itu tergantung wanita di sekitarnya.
Pria sukses karena dididik ibunya dengan dengan betul.
Didampingi istrinya dengan baik.
Dan tidak tergoda wanita koplo di sekitarnya.
Wanita itu bisa jadi madu dunia, sering juga racun dunia :pĀ 

Setuju? Alhamdulillah. Nggak setuju? Yauda nasib Ā -.-

2 responses

  1. kalau kata temen aku yang pasti kalau ketemu mertua harus dipastikan dia itu menantu bukan pembantu hehe

    1. Wahahahha paraaaaah. Itu menantu atau pembantu. Bisa…bisa… :))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: