Gagal Berburu Tiket Mudik di Tiket.com

Merantaulah…Agar kamu tau bagaimana rasanya dan kemana kau harus pulang.
Merantaulah…maka engkau akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga.
Merantaulah…engkau akan mengerti alasan mengapa kau harus kembali.
Merantaulah..akan tumbuh cinta yang tak pernah hadir sebelumnya, pada kampung halamanmu, pada mereka yang kau tinggalkan.
Merantaulah…engkau akan akan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepasmu pergi jauh.
Merantaulah…agar engkau tahu dan mengerti makna sebuah perpisahan.
Merantaulah…semakin jauh tanah rantauan semakin jarang pulang, semakin terasa betapa berharganya pulang.
Sekali lagi, Merantaulah…engkau akan tau kenapa kau harus pulang dan siapa yang kau rindu.
~ Kutipan Rantau 1 Muara~

Jaman sekarang kayaknya sedikit sekali menemukan anak-anak seusia saya yang bekerja di kampung halamannya sendiri. Kecuali kampung halaman kalian di Jakarta yah. Semuanya pasti pada hijrah bekerja di luar kota. Dan ada yang bilang bahwa sebenernya kami tidak mutlak disebut perantau. Karena merantau itu keluar dari kampung halaman dengan kemauan sendiri. Misalnya dari Padang merantau ke Jakarta baru cari kerja di Jakarta. Bukan karena ikut tes kerja dan pas keterima mau nggak mau ditempatkan sesuai kebutuhan perusahaan. Ha ha.

Tapi karena kami jauh dari rumah maka nggak papa lah disebut perantau juga. Yup, merantau itu manis-manis pait. Kalau ditanya banyakan manis atau pait? Jawabannya : rahasia :p
Merantau itu seru. Percayalah. Tapi merantau juga bikin mules kalau pas momen-momen jelang Lebaran kayak gini. Huft. Lebarannya masih 3 bulan lagi tapi pusingnya dari sekarang. Sebagai perantau yang berlokasi di kota besar saya punya tiga pilihan moda transportasi.
Pesawat : Paling praktis, paling cepet, paling nyaman. Tapi langsung saya coret. Karena juga paling mahaaaaaal. Tiketnya bisa naik sampai 2x lipat. Moda transportasi ini juga nggak perlu berebut karena mahalnya itu tadi. Yah kendaraan paling mewah buat mudik.
Bis     : Paling murah, paling lama, paling pegel. Langsung saya coret juga. Hu hu. Dengan kondisi lalulintas arus mudik yang selalu semrawut bisa-bisa saya nyampe rumah pas orang-orang udah pada arus balik. Atau pas ngelipet sajadah kelar salat ied. Ha ha.
Kereta : Lumayan lama, nggak murah-murah banget. Tahun kemarin saya naik kereta bisnis PP. Dan tahun ini saya memutuskan melakukan hal yang sama. Sebenernya pengen naik eksekutif tapi berhubungan saat Lebaran tiket hanya dijual dengan tarif atas alias satu tarif itupun dimahalkan maka saya urung naik eksekutif. Lumayan uangnya buat jajan di Surabaya.

Ternyata karena memang kereta adalah moda transportasi tengah-tengah jadinya banyak sekali orang yang memfavoritkan. Jadi perburuan tiket kereta dimulai  tepat jam 00.00, 90 hari sebelum tanggal kepulangan. Tanggal mudik saya tersebut merupakan tanggal paling padat, peak time dimana rata-rata instansi memang baru libur H-1 Lebaran. Tanggal 16 April jam 00.00 saya sudah mantengin laptop. Ketika mengakses situs resmi KA (Kereta Api Indonesia) dalam sekejap websitenya langsung down. Berkali-kali saya mendapat tulisan bad gateway. Oh KAI, kamu memang punya bad habit. Sudah tahu akan rush tapi tetap saja nggak ada perbaikan server atau antisipasi. Yah, bagaimana lagi, kami yang butuh. Dengan kondisi seperti itu saja orang-orang masih rela begadang dan gigih berjuang kok.

Kemudian saya coba membeli lewat pihak ke-3. Dalam hal ini saya memilih travel Tiket.com karena memang cuma ini travel besar yang menjual tiket kereta api. Ternyata lewat Tiket.com memang lebih mudah. Saya langsung membayar menggunakan KlikBCA sekitar jam 1 dini hari. Done! Rasanya lega sudah dapat tiket kereta untuk mudik.
Bahkan saya menyarankan teman-teman saya yang masih belum bisa untuk membeli lewat Tiket.com saja. Dan transaksi mereka semuanya berhasil. Saya senang karena bisa membantu sesama pemudik.

Kemudian seharian itu saya lewati dengan terkantuk-kantuk dan lemas akibat kurang tidur. Juga sempat merasa kesal karena merasa terjebak promo Dinomarket. 

Sesampainya dikosan saat saya baru saja masuk ke dalam kamar, pukul 20.10 saya mendapat email dari Tiket.com yang isinya :

Pelanggan Tiket.com yang terhormat,

Sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada Tiket.com.

Mohon maaf sebelumnya, kami informasikan perihal pemesanan tiket untuk Order ID #22974xxx, dana telah masuk ke dalam akun kami namun tidak terkonfirmasi, karena proses integrasi dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) ke Tiket.com down untuk sementara. Kami telah melakukan proses pemesanan ulang (rebooking) namun rute sudah tidak tersedia, sehingga dana ibu kami kembalikan (refund). Mohon ketersediaan ibu untuk menginformasikan data sebagai berikut untuk proses refund :

Nama Bank    :
Nomor rekening    :
Nama cabang :
Nama pemilik rekening :

Apabila mengalami kendala, silakan menghubungi Customer Service 24 jam kami di nomor telepon 021- 2963 3600, Livechat atau e-mail : cs@tiket.com dengan senang hati kami akan membantu.

Demikian kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Jeder! Langsung saya lemas seketika. Jadi . . . tiket saya yang dibeli di Tiket.com atau tiketdotcom ternyata mengalami gagal transaksi. Yang saya sesalkan kenapa kejadian gagal ini baru diinfokan lebih dari 12 jam setelah saya beli. Kalau saja mereka memberitahukannya satu dua jam setelah itu pasti saya masih bisa mencari lagi. Pasti saya masih bisa membuat backup plan. Tapi ini sudah malam dan semua tiket kereta api di tanggal tersebut sudah habis terjual. Begitu juga di tanggal-tanggal sebelumnya sampai H-7. Masa saya kudu cuti seminggu.
Penyesalan kedua, mereka hanya merefund uang pelanggan. Semudah itu. Kenapa tidak dicarikan tiket lain? Kalau perlu mengganti dengan tiket pesawat. Karena saat Lebaran ya semua orang khususnya yang merayakan hanya ingin pulang kampung. Bertemu keluarga. Titik.

Saya iseng mencari tweet tentang Tiket.com, ternyata banyak yang mengalami seperti saya. Hebatnya mereka tidak merespon sama sekali. Minimal meminta maaf dan melakukan klarifikasi. Kesal? Iya. Nyesel beli di Tiket.com? Iya, pakai banget. Harusnya mereka bisa mengantisipasi. Harusnya mereka merespon lebih cepat. Bahkan saat tulisan ini dibuat uang saya dan teman saya yang nitip beli ke saya beli di refund. Kecewa berlipat-lipat ganda. Email saya juga tidak digubris sama sekali.

Susah ya tinggal di Indonesia, dimana perlindungan konsumennya buruk sekali. Posisi konsumen lebih lemah. Karena kami yang butuh? Selalu begitu. Apa kabar tiket pesawat yang harganya nggak manusiawi buat saya dan sebagian orang. Mungkin saya bisanya berdoa semoga tahun depan ada tunjangan tiket mudik atau THR dinaikkan jadi 2x lipat. *ngarep*
Aaaamiiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: