Menyapa Alam di Warung Sitinggil Dago

Dulu jaman-jaman masih remaja dan berstatus sebagai mahasiswa nan muda belia rasanya tiada hari tanpa hangout ke Mall. Karena di kota asal saya yaitu Surabaya yang namanya Mall menjamur dimana-mana. Padahal sebetulnya masa itu kota saya sudah dihiasi dengan taman-taman cantik, tapi bermain ke taman menjadi last option bagi saya.

Setelah lulus kuliah saya hijrah ke kota Bandung untuk bekeja. Kota Bandung yang kata orang banyak kembangnya, padahal menurut saya masih banyakkan angkotnya. :p

Menurut saya kota ini unik. Mengapa unik? Karena riuhnya aktivitas penduduk di kota ini, termasuk banyaknya wisatawan yang gemar berbelanja, berdampingan dengan alam yang masih indah, asri, menyegarkan mata dan menyejukkan hati.

Sejak jadi orang kantoran yang berkutat dengan rutinitas, jam kerja dan setiap hari berada di kubikel ditempat kerja kebutuhan akan hiburan sudah masuk dalam list wajib. Inilah keuntungan saya tinggal di Bandung. Ketika saya sumpek dengan urusan ini dan itu, saya tinggal berkendara ke Dago atas. Yup, disana sudah terhampar keindahan yang tak terbeli oleh apapun. Saya tidak perlu mengepak koper atau mahal-mahal beli tiket untuk liburan. Bercengkrama dengan alam begitu mudah dan murah di kota Bandung.

Siang itu saya sudah kering menunggu motor saya selesai diservis rutin di daerah Cihampelas. Yah begitulah risiko servis motor pada saat weekend. Selain itu kebetulan memang beberapa sparepart perlu diganti. Usai servis motor saya dan teman saya memutuskan mencari tempat yang bisa makan, ngobrol sambil menikmati pemandangan kota Bandung.

Dari beberapa pilihan kemudian kami sepakat ke Warung Sitinggil di daerah Dago Giri. Pertimbangannya karena sebelumnya saya sudah pernah kesana jadi tahu lokasinya. Selain itu harga makanan dan minumannya terjangkau. Dan yang paling penting viewnya bagus. Untuk sampai ke Sitinggil kami berkendara lurus naik ke atas melewati Jalan Juanda. Saat menemui jalan bercabang dua ke kanan atau ke kiri, pilih yang turun di sebelah kiri. Ikuti saja jalan berkelok-kelok ke arah Lawang Wangi.

Kenapa Lawang Wangi? Karena lokasi Warung Sitinggil memang tepat di sebelah Lawang Wangi. Tidak ada papan nama yang mencolok, hanya ada satu papan coklat tidak terlalu besar. Tempatnya benar-benar privat, dari jalan tidak terlihat seperti tempat nongkrong. Pertamakali kemari saya juga ragu-ragu karena saya malah masuk ke halaman berbatu-batu seperti pekarangan rumah orang.

Warung Sitinggil merupakan tempat yang privat. Bahkan mejanya saja hanya sedikit. Ada meja dengan sofa dan sebagian lainnya lesehan. Tempatnya sederhana, hanya saung bambu dengan desain rumah. Jadi saat kita kesini rasanya memang seperti duduk-duduk di rumah sendiri.

Jangan heran jika datang ke Warung Sitinggil dan banyak yang mengantri. Tempat ini memang populer khususnya di kalangan mahasiswa. Biasanya mereka datang berombongan. Ada yang datang untuk sekedar ngobrol, berfoto-foto ria, dan ada juga yang mengerjakan tugas kuliah.

Saat kesini saya sedang beruntung karena ada satu rombongan yang baru selesai. Sehingga saya dan teman saya tidak perlu mengantri. Keberuntungan kedua adalah kami mendapat tempat duduk lesehan di tepi sehingga bisa melihat pemandangan langsung di hadapana kami.

Oya saking beneran kayak rumah, bahkan saat masuk ke dalam tempatnya kita wajib melepas alas kaki. Kalau istilah orang Jawa cekeran. Ho ho. Semua alas kaki diletakkan tepat di depan pintu masuk. Berasa lagi bertamu ke rumah orang.

Mbak pelayan dengan sigap memberikan buku menu. Karena kelaparan saya memilih makan nasi ayam lengkap dengan lalapannya. Menu lain yang tidak terlalu berat ada makaroni, spageti, roti bakar dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk minumannya ada kopi, coklat panas, jeruk, aneka jus, susu dan yogurt.

No wifi, no music. Jadi Warung Sitinggil benar-benar membiarkan kita bercengkrama dengan teman – teman, menikmati pemandangan alam sepuasnya. Sejauh mata memandang hanya hijau dan hijau. Sawah, pepohonan, kucing-kucing berlari bahagia kesana kemari. Bukankah itu hal yang langka bagi kita yang sehari-hari menghabiskan waktu dengan aktivitas khas penduduk urban. 

Oiya, saya ingatkan bagi yang tidak tahan dingin untuk membawa sweater, jaket, syal atau apapun itu alat penghangat. Karena disini udaranya tidak hanya sejuk tapi juga dingin. Apalagi setelah turun hujan. Bbrrrr… Dinginnya bisa menusuk. Begitu juga ketika sore menjelang malam. Terasa sekali angin dan udaranya makin dingin. Jadi jangan lupa hangatkan diri masing-masing.

Saya dan teman saya betah berjam-jam di Warung Sitinggil. Padahal makanan kami sudah habis dalam waktu beberapa menit saja. He he. Selebihnya kami habiskan untuk ngobrol dan berfoto.

IMG-20150328-WA0003

Gambar di atas saya ambil menggunakan kamera handphone dengan setelan mode panorama no filter.🙂 Memang suasananya agak-agak mendung waktu saya datang. Mataharinya malu-malu. Di hamparan rumput beberapa kucing berlarian. Dan banyak remaja turun berfoto-foto.

IMG-20150328-WA0008 IMG-20150328-WA0012 IMG-20150328-WA0015 Screenshot_2015-03-28-23-48-38

Kata Sitinggil memiliki arti tempat yang tinggi. Karena memang selain lokasinya tinggi juga rumahnya dibuat ala-ala rumah panggung. Istimewa memang tinggal di kota Bandung. Saya si anak Mall jadi bisa bersahabat dengan alam lebih dekat.

*Jurnal ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Jurnal Perjalanan dari Tiket.com dan nulisbuku.com #MenikmatiHidup #TiketBaliGratis

*Tulisan ini awalnya saya ketik pakai tab, ternyata susah juga masuk-masukin sama ngatur gambarnya. Pas sampai kosan mau ngedit ternyata wifi kosan lagi ngambek. *hela nafas* 

One response

  1. bandung mah memang kaya tempaat wisatanya tak hanya wisata belanja, wisata culiner dan wisata alamnya pun manteeps.. salam santun dari kami http://wp.me/4Ciil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: