Malam Minggu Bersama Curhatan si Ayah Baru

Alkisah, malam minggu ini saya sebenernya nggak ada niat main kemana-mana. Karena yang namanya kota Bandung tiap malem minggu pasti di jalan pada ngajakin berantem. Tapi berhubung tiba-tiba ada yang ngajakin gaul-gaul, saya jadi berubah pikiran. Meskipun beneran deh di jalan amit-amit. Yang namanya angkot ugal-ugalan dikombinasi sama klakson mobil dan motor yang sradak-sruduk. Stres seketika. Belom lagi macyeeeeet sodara-sodara. Demi teman sekampung halaman yang lagi sama-sama di rantau saya terjang juga kerasnya jalanan kota kembang.

Singkat cerita kami makan sambil ngerumpi di Bull Wings PVJ. Kenapa disini? Gatau ya, rekomendasi dari si teman saya yang tidak ingin disebutkan identitasnya itu. Topik utama malam ini adalah tentang anak. Ha ha. Usia kami terpaut 3 tahun dan istrinya baru saja melahirkan anak pertama mereka 4 bulan lalu.

“Enak lho punya anak itu. Lucu! Bawaannya pengen pulang terus ke Surabaya.”

“Hooo…jadi berasa punya mainan baru ya?”

“Iya beneran, gemes, pengen tak ajak main terus. Udah gitu sejak ada anak jadi makin semangat kerja. Rasanya pengen berjuang habis-habisan buat dia.”

“Bagus itu. Emang katanya orangtua itu kalau ada anak jadi punya motivasi. Gimana caranya biar kebutuhan anak tercukupi, biar anaknya nggak hidup susah”

“Kamu ndang punya o dewe ta. Nanti kamu ngerasain senengnya punya anak.”

“Ha ha ha. Tak keplak lo. Kamu se enak nggak ikut hamil. Yang hamil itulo yang ngerasain (kayak pernah hamil aja). Gimana harus menjaga kandungan selama 9 bulan. Pola hidup nggak boleh sembarangan. Tingkah laku sama ucapan nggak boleh sembarangan. Naudzubillah pokoknya kalau sampe aneh-aneh.”

“Woiyo, pas awal-awal hamil itu harus dijaga bener. Jangan sampe capek-capek, jangan sampe keguguran. Udah gitu ibu hamil kan bawaannya jadi sensitif.”

“Enak ya anakmu cewek. Bisa didandani lucu-lucu.”

“Itu dia masalahnya, aku pengennya anakku didandani lucu-lucu. Tapi kamu tau kan istriku tomboy. Anakku lho didandani kayak cowok terus. Padahal udah dibeliin baju-baju bayi lucu-lucu. Tetep aja nggak pernah dipakein. Aku bilang ke istriku, kamu boleh nggak dandan, tapi anak kita dandanin yang feminin lho.”

Ha ha. Asli nggak bisa nahan ngakak ngebayangin si temen saya ini eyel-eyelan sama istrinya. Dan namanya juga anak bayi, nggak mungkin dong disuruh dandan sendiri :p Sabar yo le. *pukpuk*

“Karena jauh dari anak gini, aku jadi suka mikir. Ya Allah jangan sampe anakku nggak kenal bapaknya. Jangan sampe anakku mikir duh bapakku ini ndak sayang sama aku. Bisanya cuma ngasih duit tok tapi jarang ketemu.”

“Sebenernya lebih ke kualitas sih menurutku. Jadi pas ketemu itu kamu harus bener-bener tunjukkin kalau kamu sayang, perhatian sama anakmu. Bapak-bapak iku lak biasanya cenderung jaim, kaku, atau kurang ngerti cara nunjukkin kasih sayang lewat perbuatan. Lagian moga-moga kamu dapet kerja di Surabaya. Jadi nggak perlu jauh-jauhan kayak gini.”

Kemudian obrolan kami menyimpang sebentar ke masalah gaji, bahwa rate gaji perusahaan di Surabaya lebih kecil daripada di Jakarta atau Bandung. Memang bener sih itu. Tapi tetep aja kalau dipikir-pikir lagi, misalnya selisih 1-2 juta juga sama aja masih nambah pengeluaran buat kos sama tiket pulang. Jadi meskipun gaji yang diterima lebih gede, berbanding lurus sama pengeluaran yang juga makin gede.

“Istrimu sempet baby blues nggak?”

“Haha. Nggak atek baby blues-baby bluesan. Aku udah bilang ke dia. Nggak usah aneh-aneh lho ya. Nggak usah ikut-ikutan baby blues kayak ibu-ibu yang lain. Ibu-ibu muda jaman sekarang iki lak mesti aneh-aneh, satu apa semua ikut apa.”

“Iya ya, mama-mama muda yang menjunjung solidaritas.”

“Hah, apanya, sekarang itu mereka kan suka saling sharing atau benchmark sesuatu. Lha itu yang bikin pusing. Misalnya aja breastpump, tak beliin merek lain nggak mau, nggak dipakai, katanya wajib kudu harus merek Medela. Padahal itu mahal, harganya 2,6 jutaan.”

What? Saya nggak tahu lho kalau ternyata alat pompa ASI bisa segitu mahalnya. Saya kira harganya paling 100-200ribu. Ah itu sih pompanya jangan-jangan pakai pompa air. -.- Nah kalau abis beli pompa semahal itu dan nggak kepake lagi terus diapain ya.

“Abis itu breast pad harus yang ini, baju menyusui harus yang itu. Kalau udah punya role model tertentu, semua harus diikuti. Mereknya, tipenya, harus sama semua. Dan itu mahal-mahal. Hiks. Jadi kalau udah nemenin istriku belanja kebutuhan bayi, suka deg-degan sama total bayarnya.”

“Ha ha. Maklum aja sih, namanya juga lifestyle. Mama-mama jaman sekarang kan makin gampang berbagi informasi. Tapi lho kalau dipikir-pikir jaman dulu nggak ada Medela dan kawan-kawan ibu-ibu kita bisa aja tuh mbesarin kita dengan cara tradisional. Hebat ya berarti.”

“Makanya itu. Aku suka nggak habis pikir. Tapi nggak diturutin juga nggak mungkinlah.”

Seruput kopi sambil ngeliatin hujan yang turun deres dari jendela tempat kami makan.

“Kapan itu istriku ke dokter, mau pasang KB. Terus kok kata dokternya dia udah telat lagi. What?!!! ANAKKU MASIH UMUR 4 BULAN WOY! “

”  …  ”

Ahahaha. Gatau deh dokternya salah atau beneran akurat. Selamat bersenang-senang jadi ayah baru yaaa :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: