Ketika Pertiwi Tak Lagi Memberi

*speechless* semoga bisa ikut berkontribusi membangun negeri, bukan malah menggerogoti. aaamiin.

Marlistya Citraningrum

Siang itu begitu terik. Pelabuhan di ujung utara Taiwan itu terasa membara. Di depan saya berdiri seorang lelaki paruh baya berkulit legam, tulang-tulangnya menonjol. Sorot matanya membuat saya tercekat. Suaranya yang lirih dan pias membuat ceritanya berkali lipat menyentuh saya.  

Saya menggigit bibir, sekuat tenaga menahan air mata yang sudah berada di pelupuk, tinggal menunggu jatuhnya.

Lelaki paruh bayar berinisial K ini adalah seorang nelayan Indonesia yang terpaksa harus pergi ke Taiwan untuk mencari penghidupan. K dan ribuan nelayan lainnya bekerja sebagai anak buah kapal (ABK), bekerja pada ‘majikan’ orang Taiwan yang memiliki kapal. Jumlah mereka yang banyak, dan dengan demikian menjadikan mereka sebagai tenaga kerja yang banyak dicari tidak lantas membuat kehidupan mereka layak.

Mereka tinggal, makan, bekerja, bercengkerama di kapal milik ‘majikan’ mereka. Kapal-kapal itulah hidup mereka. Tempat tidur seadanya di bawah dek, bercampur amis ikan dan pengap. Makan mereka belum tentu bervariasi, jika tidak beruntung, mereka…

View original post 290 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: