Senjata Paling Tajam dan Kejam

 

 

Sayangnya lidah tidak bertulang sehingga sang tuan bisa berkata apa saja semaunya. Tanpa saringan, bahkan seringkali tanpa beban. Bagaimana sih perasaan kita waktu menjelek-jelekkan orang lain? Bahagiakah? Puaskah? Atau justru ingin terus melakukannya sampai seluruh dunia tahu.

Lucunya tak jarang hal tersebut dilakukan orang yang berpendidikan tinggi. Mengucapkan kalimat-kalimat yang tak sepatutnya diucapkan. Begitu juga ada yang mungkin menganggap ucapannya lumrah, padahal apa yang dikatakannya itu tidak sopan dan bisa menyinggung perasaan.

Ketika orang yang dikata-katain, dijelek-jelekkan, dihina-hina itu diam bukan berarti dia mengiyakan tuduhan pada dirinya. Mungkin dia tidak mau membuang-buang waktu dan energi untuk menghiraukan si penghina itu. Yang jelas si tukang hina itu harusnya dikasihani, karena dia belum tahu bagaimana menyampaikan sesuatu hal dengan kalimat yang baik. Karena mungkin dia lupa bagaimana seharusnya bersikap sopan. Semoga saja besok-besok seluruh kosakata kurang baik itu ter-uninstall dari dirinya.

Sayangnya batas-batas kewajaran itu berbeda bagi satu orang dan orang yang lain. Ha ha. Jadi yaaa yang bagi kita kurang benar memang bagi orang lain hal tersebut biasa saja.

Bukankah kita semua memang perlu salah? Karena kita semua wajib belajar menjadi benar.

People may forgive, but it’s difficult to forget. 🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: