Safety Riding itu Perlu !

Beberapa hari ini rasanya mama papa saya sedang kurang beruntung di jalan raya.😦 Hal ini jadi membuat saya khawatir. Si mama beberapa waktu lalu panik karena ada segerombol anak muda yang menyetir mobil dengan ugal-ugalan dan mepet ke motor mama saya. Akhirnya si mama ikutan mepet ke pinggir trotoar, akibat terlalu mepet kakinya jadi membentur trotoar. Peristiwa itu terjadi saat mama saya mau berangkat kerja, saat pulang saya kaget melihat mama jalan terpincang-pincang dengan kaki bengkak dan luka-luka (babras kalau istilahnya orang Jawa).

Belum sembuh kaki mama saya, hari ini kejadian lainnya menimpa papa saya. Setiap hari Minggu pagi, papa saya rutin bersepeda (gowes) biasanya sampai daerah Sidoarjo. Hari inipun demikian, papa saya gowes sendirian. Sedangkan saya yang biasanya bangun kesiangan tumben-tumbenan bangun pagi dan berenang. Sepulang saya renang, saya ditelepon mama dan mengabarkan bahwa papa jatuh dari sepeda. Secepat kilat saya pulang ke rumah. Papa saya duduk di ruangtamu sambil menyeringai menahan sakit. Kronologisnya, papa saya bersepeda di Jalan Raya Sidoarjo, menurut papa kejadiannya cepat sekali. Tahu-tahu beliau sudah terbanting dari sepedanya. Rupanya ada seorang anak laki-laki yang mengendarai motor sambil mengebut lalu menyenggol stang sepeda papa saya😦 Helm papa saya sampai pecah, itu artinya benturan yang dialami cukup keras. Untung saja papa saya selalu mengenakan helm saat bersepeda. Hebatnya, dengan luka-luka dan nyeri seperti itu papa saya masih sanggup menyetir sendiri sampai rumah. Si anak itu yang menyerempet papa saya entah dimana orangnya.

Ya ampun dua kejadian itu membuat saya jengkel, speechless, mengurut dada dan entahlah apalagi. Memang sudah sejak lama saya nggak habis pikir dengan kelakuan para pengguna jalan yang menurut saya makin hari makin nggak tau aturan. Apa sih susahnya nyetir pelan-pelan, nggak usah ngebut kalau nggak terburu-buru. Toh tempat tujuannya nggak bakal geser juga. Apa jangan-jangan orang jaman sekarang emang suka buru-buru semua? Beberapa hal yang membuat saya heran sembari nggak habis pikir dengan para pengguna jalan :

* Berpindah-pindah jalur ke kanan dan ke kiri tanpa menggunakan lampu sein, bahkan seringkali langsung belok sembarangan. Memangnya kita yang di belakang kalian ini cenayang? Terus tau kalian mau kemana? Mbak-mbak sama ibuk-ibuk nih seringkali kayak gini.

* Menerobos lampu merah, padahal jalur lain masih hijau. Beberapa kali lho saya lihat ada orang yang hampir bahkan sudah tabrakan gara-gara kejadian ini. Kalian sendiri yang menerobos kalau ditabrak orang kok marah. Aneh. Nah, apa sih susahnya nunggu sebentar saja sampai lampu berubah hijau. Nggak makan waktu sampai sehari semalem kok. Yang sering nggak sabaran gini biasanya bapak-bapak atau mas-mas yang merasa nyawanya ada sembilan. Oya, mbak-mbak juga banyak sih yang kayak gini. Bahkan mbak-mbak jilbab panjang. Malu mbak sama jilbabnya, masa tertib aja nggak bisa. Eh bukannya mendiskriminasikan atau apa, saya juga jilbaban kok, tapi saya ogah nerobos lampu merah kayak mereka. Bikin malu.

*Mas-mas bermotor matic yang ngebut dan meliuk-liuk. Naik motor matic emang enak, saya sendiri ngerasain, sudah motornya enteng plus nggak usah repot ganti-ganti gigi. Tapi maaaaaaaasss, tolong kalau naik motor itu lurus mas! Lurus! Kecuali anda silinder atau mabok. Kalau kejadian hampir diserempet motor matic sih saya beberapa kali ngalamin. Sesuatu banget lho ya sodara-sodara.

*Bapak2/mas2 yang mengganti helm dengan peci/kopyah. Juga ibu2/mbak2 yang mengganti helm dengan kerudung. :)))) Nggak habis pikir lho yaaa.. Mungkin memang peci dan kerudungnya saktimandraguna jadi nggak pakai helm nggak papa. Padahal pakai helm juga nggak ada ruginya. Apalagi ini di jalan besar, jalan raya. .___________.

*Bemo/angkot yang suka berhenti sembarangan tanpa kasih tanda, becak yang suka melawan arus dan nyebrang sembarangan serta taksi yang nggak mau ngalah. Pliss pak, saya tahu anda sedang mencari nafkah. Tapi alangkah baiknya ketika pencarian nafkah itu dilandasi rasa tanggungjawab serta tepa selira.

Oke, saya emang lagi emosi jiwa nan membahana. Amit-amit jabang bayi. Semoga saja saya tidak termasuk kedalam golongan kaum-kaum ngawur pengguna jalan. Kenapa sih kok nggak mau dikit aja mematuhi peraturan lalulintas. Saya rasa kalau semua orang tertib pasti berkendara di jalan raya akan lebih bahagia, aman, damai, sentosa nan sejahtera. Yaah harusnya polisi sendiri mau menindak tegas. Buatlah aturan-aturan yang lebih ketat, tilang aja semua orang yang menerobos lampu merah. Mungkin ujian SIM memang sudah waktunya ditiadakan, toh kebanyakan orang SIMnya nembak :)))) Lebih baik diadakan uji moral, mental dan kesabaran. Jadi semua pengguna jalan dipastikan tidak ugal-ugalan. Saya cuma bisa berdoa, semoga para pengguna jalan itu diberikan kesadaran lahir dan batin, kemudian insyaf semua. Semoga bakalan ada MRT atau KRL yang akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.  Yang terpenting, semoga mamapapa saya cepat sembuh, kembali beraktivitas serta kita semua selalu dilindungi dimanapun dan kapanpun kita berada. Aaamin.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: