Tak Ada Orangtua Yang Ingin Menyakiti Atau Membuat Sedih Anaknya .

Duluuuu… Dulu sekali, saya selalu heran. Mengapa sering sekali saya bertengkar dengan orangtua saya. (Sekarang juga masih sih :p) Tapi pertengkaran dulu dan sekarang tidak sama. Dulu saya bisa ngamuk-ngamuk karena merasa tidak sejalan dengan orangtua. Dulu hati saya berontak, meskipun tidak sepenuhnya saya benar-benar memberontak. Saya nggak ngerti dengan orangtua, begitu juga orangtua gagal paham sama saya.
Well, semakin besar saya semakin sadar. Memang fase itulah yang pasti dihadapi oleh anak-anak manapun juga orangtua manapun di berbagai belahan bumi & bagian negara manapun. Nah sebenarnya toh pertengkaran juga tidak melulu harus terjadi. Tergantung bagaimana orangtua mendekatkan diri, tergantung bagaimana anak bersedia membuka diri. Intinya harus ada peran aktif dari kedua belah pihak.
Setelah besar dan banyak hal yang saya alami, rasanya saya harus malu sama diri-sendiri yang hobi banget (dulunya) adu argumen dengan orangtua saya. Seharusnya saya bersyukur, masih punya keduanya lengkap, hingga detik ini. Teman saya ada yang sudah lama tidak punya ayah, tidak punya ibu, bahkan tidak mengenal orangtuanya sejak kecil😦 Padahal betapa ingin sebenarnya seorang anak bisa membahagiakan orangtuanya & ingin mereka tersenyum bangga.
Saat dulu saya masih bekerja part-time, saya jarang sekali ketemu orangtua. Ketemupun juga nggak ngobrol. Karena biasanya ortu berangkat kerja, saya berangkat tidur. Saya kuliah lanjut kerja, ortu baru pulang. Saya pulang ortu masih tidur. Pokoknya selipan terus. Berasa dirumah cuma numpang ngekos. Untung nggak ditarik sewa bulanan. Nah, gara-gara itu kadang saya ngerasa kangen sama ortu. Sampe pernah diem-diem menitikkan airmata. U,U
Sayapun belajar memahami orangtua saya. Kenapa mama suka ngomel kalo saya nggak pulang-pulang. Bahkan nggak bisa tidur karena saya selalu pulang sendirian, naik motor di jam-jam yang tidak wajar. (Diatas jam 12 malam). Begitu juga dengan papa yang dengan diamnya, sebenarnya diam-diam menunggu saya pulang, rela tidur di sofa ruangtamu. Langsung pindah kasur pas saya sudah sampai rumah.

Yap, betapa sebenarnya orangtua begitu mencemaskan kita anak-anaknya. Yang justru larangan atau teguran itu kita anggap mengatur dan mengekang. Ya Allah, betapa jahatnya prasangka itu. Lalu saya mulai berpikir, kalau saya punya anak, saya juga pasti khawatir luarbiasa ketika dia nggak pulang-pulang. Saya pasti takut ada apa-apa dijalan dan sebagainya. Begitu juga saya merasakan sendiri, kebetulan saya punya adik perempuan. Saat dia tidak pulang-pulang hingga larut malam, rasanya jantung mau copot. Saat di SMS tidak membalas, saat di telepon tidak diangkat. Rasanya kecemasan itu meningkat berjuta kali lipat.

Lewat tulisan ini saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan siapa saja yang membaca tulisan saya. Supaya tidak menyakiti orangtua kita. Supaya menuruti perintah beliau berdua. Karena menuruti kata-kata orangtua itu Insya Allah mempermudah jalan kita lho.🙂 Percaya deeeeh! Lagipula mana ada sih orangtua pengen anaknya susah. Orangtua pasti tau mana yang baik buat anak-anaknya. Kalau toh menurut kita kurang benar, jangan langsung naik pitam, sampaikan sambil bercanda atau dengan intonasi yang baik. Sebaiknya kita tidak membuat orangtua khawatir, bisa dimulai dengan hal-hal kecil, misalnya mengabari saat bepergian, memohon ijin untuk apapun yang kita lakukan. Restu orangtua punya khasiat yang sangat dahsyat. Jangan memberontak, karena kita tidak merasakan pedihnya hati orangtua akibat kelakuan kita. Bahkan saya mewek gara-gara tokoh Baso di Negeri Lima Menara. Dia tidak mengenal ayah ibunya sejak kecil. Tapi dia bertekad khatam hafalan Al-Qur’an yang akan dipersembahkan untuk ayah ibunya. Subhanallah… Keren banget.

Saat ini saya berharap orangtua saya diberi kesehatan, umur yang panjang, agar bisa berdiri tegak melihat saya & adik saya diwisuda, melihat kami sukses dalam pekerjaan, melihat kami menikah hingga memberikan banyak cucu. Yah, apalagi sih tugas utama kita selain berbakti pada orangtua. Kalau bukan untuk mereka lalu siapa lagi? Saya berdoa, semoga kita semua jadi anak-anak yang baik. Yang tidak durhaka. Yang memahami bagaimana perasaan orangtua kita sebenarnya.🙂

 

P.S : Maaf ya mama papa, masih membuat kalian berdua galau karena saya belum lulus juga :p Saya juga pusing lho. Saya janji, akan berusaha secepatnya.

One response

  1. Iya, det, sekarang aku ngerasa bersalah banget sama orang tuaku, though I need them *hugs mom and dad*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: