Bring The Right Key

Dia dan mereka sibuk bertanya.

“Kapan pintunya akan terbuka?”

Saya hanya menggeleng lemah. Bukan karena sombong, tapi sama-sama tak tahu jawabannya.

“Boleh saya bukakan?” Dia menawarkan sebatang kunci yang saya yakin tak cocok dengan lubangnya.

Saya menggeleng. Bagaimana jika ternyata dia sadar kuncinya tidak tepat, lantas memaksa diri mendobrak masuk.

Dia pergi dan saya tidak menyesal. Kemudian datang lagi yang lain. Mencoba mengetuk pintu, berharap bisa singgah.

“Boleh masuk sebentar?”

Saya tersenyum kecut, tanda tak ingin diganggu. Ah, apa perlu sih ditempel papan atau spanduk besar bertuliskan, NOT FOR PUBLIC. Biar saya nggak capek menanggapi satu-persatu. Mereka kira ini museum atau monumen? Yang bisa didatangi sesuka hati. Apa mereka tidak tahu, carut-marut penghuninya menata interior rumah satu-persatu. Saya lelah menata semua benda fragile di dalamnya, dan enggan membiarkan ada tamu mengotorinya. Penghuni yang egois kan?

Saya terperangkap di dalam rumah saya sendiri. Sementara kamu terlanjur pergi sambil membawa kuncinya. Tidak, saya tidak menuntut. Saya hanya berdoa, berharap kamu datang di saat yang tepat.


Membuka pintunya, dan  kusambut kamu dengan hangat. Welcome home, dear. Welcome to my heart for once again. Just believe in me, that everything gonna be OK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: