Maaf Itu Sakti

Percaya atau nggak, kata maaf termasuk salah satu kata yang mahal harganya. Padahal kita mungkin berpikir, apa susahnya sih bilang maaf. Susah! Ternyata mengucapkan akan menjadi sangat berat bahkan kadang-kadang nggak sanggup diucapkan.

Apa yang membuat kata maaf itu jadi mahal? Sebenarnya adalah diri kita sendiri. Karena saat mengucapkan kata-kata itu kita harus benar-benar tulus melakukannya. Bukan sekedar sebuah formalitas yang berlaku di masyarakat.

Tak jarang, antara dua belah pihak saling tunggu menunggu siapa yang seharusnya minta maaf lebih dulu. Mengaku salah bukan berarti kita jadi orang kalah. Justru si pemenang itulah orang yang dengan ksatria mau meminta maaf lebih dulu.

Sayangnya, lagi-lagi yang namanya gengsi dan ego suka menyerobot. Bikin kita berpikir ulang buat minta maaf. Rasanya akan jadi sangat berat untuk mengucapkan kata itu. Ujung-ujungnya masalah yang bisa selesai dengan saling berjabat tangan malah justru jadi berkepanjangan. Wah, nggak enak banget tuh.

Saya sendiri sering menemui orang-orang yang susah banget minta maaf. Iya, bahkan sampai bisa tahan diem-dieman lama Cuma gara-gara menunggu kata maaf. Tuhkan, simpel terkesan sepele tapi ternyata nggak mudah.

Disamping itu, menjadi seorang pemaaf juga tak kalah beratnya. Hayo ngaku saja, di mulut mungkin kita bilang,”Oh, iya nggak apa-apa kok. Sudah dimaafkan.” Tapi siapa sih yang pernah tahu isi hati orang. Bisa jadi dalam hati ia masih menyimpan marah yang nggak kita sadari.

Begitu juga setiapkali Hari Kemenangan Agama saya yaitu Hari Raya Idul Fitri tiba. Selalu terlintas pertanyaan yang sama. Semudah itukah kami saling memaafkan? Kalau memang iya kenapa tidak.

Hm, maksud saya tentu bukan sekedar berkirim sms kata-kata lucu, saling berjabat tangan dan berangkulan. Itu hanyalah ritual saja, ritual yang kita pilih sebagai sarana perdamaian. Tapi saya penasaran dengan maaf tulus yang berasal dari dalam hati. Maaf yang bahkan tanpa perlu terucap sudah menghapus semua rasa iri, dengki, dendam, dan marah.

Bayangkan saja kalau dua negara yang sedang bertikai, lalu tiba-tiba presiden mereka berdiri di podium dan berjabat tangan saling minta maaf. Lalu, bukan tidak mungkin kan tentara mereka yang sedang baku tembak lantas berbalik berangkulan saling meminta maaf.

Iya kan, perang-perang yang terjadi mayoritas hanya lantaran ingin meninggikan ego masing-masing.

Nah, sekarang pertanyaannya. Kalau memang momen Lebaran untuk saling memaafkan.Kenapa kita tidak pernah datang pada orang-orang yang mungkin jadi musuh kita. Kenapa tidak berkirim kartu Lebaran pada orang-orang yang selama ini bertengkar dengan kita.

Yang ada kita justru datang pada teman-teman terdekat, setelah orangtua dan saudara tentunya, untuk bermaafan. Lalu kita mengabaikan peranan maaf untuk menyambung silaturahmi dengan musuh kita. Aneh kan? Nggak sih, karena demikianlah yang jadi hal umum di masyarakat.

Di luar konteks, kata maaf bisa bikin PT. Pos Indonesia sempat berjaya karena banyak yang beli kartu Lebaran. Kata maaf bisa bikin penjual parsel laris manis. Kata maaf bisa bikin dua negara batal berperang. Kata maaf bisa bikin dua saudara berhenti adu mulut. Kata maaf bisa bikin orangtua mengampuni anaknya yang durhaka.Kata maaf bisa bikin dua sahabat berkawan semakin erat. Kata maaf bisa bikin karyawan urung resign.

Jadi jangan salahkan saya bila ternyata kata ‘maaf’ punya kekuatan lebih sakti dari sudah kita duga selama ini.

Hari ini, saat saya menuliskan ini adalah tepat tanggal 1 Syawal 1430 H. Hari dimana umat Islam berbondong-bondong datang ke masjid untuk menunaikan salat Ied. Ibadah yang hanya kita jumpai satu kali dalam setahun. Sungguh karuniaMu yang indah ya Allah.

Dan saya yang biasa begadang, menghabiskan malam dengan merenung. Mengevaluasi diri selama setahun ke belakang. Kalau dalam satu hari saya bikin sebel satu orang saja, berarti sampai hari ini saya punya 365 orang yang sebel sama saya. Wah, moga-moga stok maaf mereka masih banyak.

Itu tadi kalau terjadi Cuma pada satu orang. Nah kalau satu gerombolan, berarti makin banyak saja orang yang sebel sama saya. Hm, sanggup nggak ya saya mengakui kesalahan tersebut. Melontarkan kalimat maaf yang tulus dari hati.

Saya berusaha. Saya akan berusaha. Kalau misalnya saya diam saja, berarti saya tidak pantas memaafkan diri saya. Karena ini hanya akan sama saja menjalani momen Lebaran sebatas keharusan.

Akan diperlukan kekuatan ekstra keras serta kesabaran tanpa batas agar kita semua mampu kembali pada fitrah.

Untuk kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, iya kamu, juga kamu, dan kamu, kamu yang itu, kamu yang satunya lagi, dan semuanya saja yang pernah menempatkan saya sebagai orang yang menyebalkan. Ayo kita sama-sama berangkulan, saya mohon agar dimaafkan. Bukan sebagai pembelaan tapi untuk pelajaran. (dee)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriah.

.anindita pusparani.

Sajadah ini aku hamparkan, diiringi doa pada Engkau PenciptaKu

Pertemukan kami kembali ya Allah dengan bulan Ramadhan

Dimana pahala ibadah kami dapat dilipatgandakan

Saat-saat kami punya kesempatan kembali menuju kesucian

Ya Allah, rangkul kami dengan petunjukMu

Jangan Engkau tinggalkan kami sendiri

Tegur kami karena kami terlalu sering lupa diri

Karena Engkaulah yang Maha Besar, dengan segala ketetapanMu

One response

  1. yup… minta maaf dan memaafkan sama-sama sulit
    tapi… sulit bukan berarti tidak bisa kan =)
    hehehe…
    kamu kumaafkan kok det =P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: