Tolong Antar Surat Saya

Ada hari dimana saya memutuskan menuliskan semua ini. Iya, saya hanya butuh selembar kertas dan sebuah pena. Selebihnya biarkan otak dan jari saya yang bekerja. Ups, ternyata hati saya memenangkan peperangan ini melebihi yang bisa dilakukan logika beserta rasio. Baiklah saya turuti saja. Apa susahnya merangkai huruf ini, membentuk kata, mengumpulkannya jadi rangkaian kalimat.

Dalam hal ini saya tak butuh angle yang rumit, cukup sederhana saja. Saya juga tidak mau merepotkan editor. Kapasitas saya sudah mampu menciptanya. Memang bukan mahakarya paling indah atau paling hebat. Hanya setitik kejujuran.

Saya tuliskan inisial nama kamu sebagai bagian paling akhir. Sebuah substansi yang menempati pojok kecil kertas tapi sudah menjelajah hampir seluruh isi kepala saya. Mengerikan ya? Tidak juga kok. Siapapun bisa saja mengalami hal semacam ini. Semuanya seperti berkumpul jadi satu kesatuan. Campuraduk emosi ini.

Kemudian saya mulai berhitung. Menjumlah deretan kalimat dalam paragraf. Astaga, saya tidak pandai berkata manis. Saya tidak hobi membuat janji. Saya hanya meracau, menumpahkan kerinduan, kebanggaan, kekaguman, kebencian, semuanya. Saya tutup surat ini dengan salam yang tidak romantis. Buat apa coba? Membacanya saja hanya akan membuatmu geli.

Kertas itu terlipat dua kali. Lebih kecil dari ukuran aslinya. Saya masukkan ke amplop lusuh dengan tangan basah serta wajah penuh peluh. Perlahan saya rekatkan erat-erat. Biarpun tidah berharga seperti kiriman wesel saya tidak mau ada yang mengintipnya. Saya berharap langsung dibuka oleh penerimanya.

Langkah selanjutnya menempelkan perangko. Sayangnya saya cuma punya perangko tua dengan nominal sangat kecil. Entah kapan surat ini bisa sampai dengan ongkos kirim tak sepadan itu. Biar saja, semoga kurirnya baik hati dan mau membawanya tanpa imbalan tambahan. Saya tidak mau surat ini berkahir dengan kembali pada pengirimnya. Saya mau balasannya, bukan surat saya yang datang lagi ke rumah.

dari saya, untuk kamu

dari saya, untuk kamu

Keluarlah saya dari dalam rumah. Berlarian sepanjang jalan aspal. Memutari setiap tikungan. Nafas saya sudah hampir habis. Tapi kok tak satupun kantor pos buka hari ini. Tak satupun bis surat tersedia sebagai sarana. Apa mentang-mentang internet dan handphone sudah menjajah? Saya bingung harus bagaimana. Surat itu semakin lusuh dalam genggaman saya.

*cukup butuh kesempatan, serta kesepakatan =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: