Cita-cita, Cinta, dan Kita

Lagi-lagi sinkronisasi otak saya mengalami gangguan. Kalau niatan nulis sih ada banget. Banyak ide yang pengen saya tuangkan lewat kalimat-kalimat bodoh saya. Tapi tangan saya nggak pernah mau nurutin perintah itu. Tiap di depan computer rasanya semua ide menguap hilang. Setiap buka laptop dirumah bawaannya ngantuk, berakhir ketiduran. Payah banget.

Cita-cita, cinta, dan kita. Saya kok lagi suka ya sama tiga kalimat diatas. Meskipun ketiga-tiganya belum tentu punya korelasi yang jelas. Ah, saya pengen ngomongin satu-satu dari tiga kata yang sama-sama berakhiran ‘ta’ itu.

cita-cita

Cita-cita. Akhir-akhir ini disekitar saya banyak yang mengeluh macem-macem. Salah deh, mengeluh dua macem. Kalau nggak tentang kuliah berarti tentang kerjaan. Nah, ada juga salah satu teman yang lagi dirundung sensi tingkat tinggi sekali. Bawaannya sumpek melulu.

Dia bilang lagi pusing berat sama salah satu proyeknya yang lagi dikejar deadline. Yang bikin dia nggak enak hati tentu aja lantaran deadline itu datangnya dari orangtua. Wow! Nggak boleh dong ngecewain beliau berdua.

Dia bilang lagi pusing, bingung, ujung-ujungnya ngomel sendiri. Untungnya sih dia nggak tipe temperamen yang ngamuk-ngamuk. Hm, tapi saya kan jadi bingung sama dia. Emang kalau diomelin terus tugasnya bisa selesai sendiri?

Berhubung saya ini tipe orang tanpa tedheng aling-aling yaudah saya kata-katain aja sekalian.

“Tugasmu itu yang bener dikerjain, bukannya dipikirin terus sampai pusing!” Kalau kebanyakan mikir pastilah udah keburu abis waktunya. Coba kalau mau usaha dikit aja. Bukannya malah sibuk ngelakuin yang nggak penting. Oke, saya emang nggak bener-bener tahu sih seberapa repotnya dia.

Gara-gara keluhan-keluhan itu saya jadi inget sama seseorang yang pernah juga cerita ke saya. Membagi ketakutan-ketakutannya. Ujung-ujungnya dia bilang kayak gini,

“Aku ini lho nggak bisa.” Wah, udah kalau kalimat ini keluar saya pasti sebel banget. Sampai-sampai saya selalu menanamkan pikiran ini.

“Kamu itu bukan nggak mampu, tapi nggak mau.”

Bener kan? Wong sebenernya apa yang dia lakukan hasilnya selalu lebih bagus dari saya. Jadi kenapa sih harus dibumbui keluhan dulu. (Ah, kayak saya nggak pernah ngeluh aja).

Orang yang hidupnya berarti adalah orang yang berani bikin cita-cita terus mengejarnya sekuat tenaga. Nggak usah takut nggak mampu duluan. Tapi berusahalah sampai kamu udah nggak sanggup berlari bahkan berdiri.

Aku, kamu, kita semua berhak mendapatkan cita-cita itu. Jadi jangan nyerah dulu. Kuncinya ada tiga. Niat, Fokus, sama Manajemen Waktu. Oh, empat deh! Yang ke-empat itu Doa. Yup, nggak boleh patah semangat kalau kita udah berani punya cita-cita.

Kayak kata temen saya. S E M A N G A T. (:

Bersambung…

*de2t*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: