My Cup of Story : Candu itu Kamu

I never asked him to love me in the first place.

Kuucapkan kalimat itu dengan nada frustasi. Aku lelah. Seperti dugaanku, kamu bukan tipe orang yang akan menghibur atau menenangkan orang lain. Apalagi kita toh tidak akrab, hanya kebetulan terjebak dalam percakapan ini. Kenapa juga aku harus curhat denganmu, dengan seorang Audy yang kelewat cuek. Kamu hanya menatapku tajam. Tanpa komentar?

“Satu caffe latte, satu susu coklat, dua espresso dan satu matcha latte.” Yadi, office boy di lantaiku  mengulang kembali pesanan kami. Tawaku tersembur karena susu coklat itu pesanan Audy. Oh man, cowok tinggi, gede, garang tapi minumnya susu coklat.
“Su . . . su?” Kueja pesanan Audy sambil memicingkan mata.
“Biar sehat dan biar kulitku tetap warna coklat,” sahutnya asal. Pecahlah tawa satu ruangan.
Di lantai bawah ada kedai kopi yang baru buka. Tempatnya berkonsep minimalis modern seperti tongkrongan gaul yang sedang happening saat ini. Meja, kursi dan lantai kayu. Spot-spot cantik buat foto-foto lucu yang kami sebut dengan istilah instagramable. Awalnya aku sudah mengunderestimate kedai kopi itu duluan.
“Paling jualan tempat doang. Rasa kopinya nomer dua. So … so …” Ujarku nyinyir. Tapi ternyata setelah kucoba dugaan tersebut salah. Mereka punya barista yang handal dan meracik kopinya dengan serius.
“Oya, kedai bawah aja ngeracik kopinya serius. Kapan hubungan kita dibawa serius?”
Siulan-siulan menggoda ditambah cie … cie … terucap dari berbagai penjuru ruangan. Dasar tukang gombal. Aku sudah hafal dan kebal dengan kelakuan Audy si raja gombal. Semakin dia bilang serius semakin menunjukkan dia nggak serius.
“Ayo berangkat ke KUA sekarang !” Tantangku padanya.
“Masih buka nggak jam segini?”

Lagi, sebuah papercup  berisi hot caffe latte sudah menanti di kubikelku saat aku tiba di kantor. Ini sudah berlangsung seminggu lebih, aku belum tahu siapa pelakunya.
“Mungkin dari Audy,” Myria berbisik padaku sambil tersenyum centil.
“Ha ha. Ya nggak mungkin lah. Kalau dia levelnya kopi sachet. Baru aku percaya.”
Lagipula Audy selalu datang lebih siang daripada aku. Gimana caranya coba dia meletakkan kopi ini.
“Siapa tahu dia nyuruh OB?” Meskipun Myria kekeuh berasumsi ini perbuatan Audy, aku masih tetap yakin itu bukan dia.
“Coba lihat di CCTV. Kalau kamu beneran penasaran sih.
“Yang penasaran itu sebenernya aku apa kamu?” Kutoyor gemas si Myria.

Kusebut diriku si half-blood caffeine karena sehari saja tidak terguyur kopi rasanya ada yang kurang. Mungkin juga sebenarnya hanya sugesti saja bahwa kopi membuatku lebih produktif. Buktinya jika sedang sibuk lalu lupa minum kopi aku tetap baik-baik saja.
“Ayo ngopi dulu biar nggak salah paham.”
Itulah jargon yang selalu diucapkan di antara kami para penikmat kopi. Terdiri dari hampir seluruh pria di ruanganku minus Audy. Sedangkan aku satu-satunya wanita yang minum kopi. Sisanya lebih menggemari matcha latte, thai tea dan bubble milk tea. Meskipun sama-sama minum kopi tapi aku dan para pria itu berbeda aliran.
“Ngopi itu di kantin. Lebih mantap.”
Berkali-kali Wildan mengajakku dan berkali-kali pula aku menolak ajakannya.
“Malas. Di kantin nggak bisa foto-foto cantik. Ha ha. Nanti aku nggak bisa update Snapchat, Path sama Instagram dong.”
Tentu saja teman-teman ngopiku adalah geng wanita yang sayangnya nggak satupun dari mereka doyan kopi.
“Ya ampun, di kantin bau keringat. Mending di kafe bawah, lihat baristanya meliuk-liuk bikin kopi.” Tatapan Risa menerawang membayangkan salah satu barista favorit kami yang senyumnya manis melebihi manis gula jawa.
“Itu barista apa penari ular meliuk-liuk gitu?”
“Audy!” Sienna menjewer kuping kiri Audy.
“Bener tuh, ngopi itu di kantin. Lebih kerasa sensasi ngopinya. Minum kopi tubruk asli Indonesia sambil ngerokok. Mantap.”
“Berisik. Ikut-ikutan aja. Kamu tuh nggak ngopi nggak ngerokok pakai komentar, kayak yang ngerti aja rasanya gimana.” Kali ini giliranku menjewer kuping kanan Audy.

“Aku mau bicara.”
Tristan menghampiri mejaku. Memberi isyarat agar aku mengikutinya keluar ruangan. Saat itu sudah lewat jam kantor, tapi aku sengaja pulang telat demi menghindari macet. Ruanganku sudah sepi, hanya tinggal aku sendirian yang sedang asyik streaming video.
“Oh iya boleh.”

Tristan berjalan ke arah tangga darurat. Aku mengekor di belakangnya.
“Ada apa? Kok kayaknya serius sekali.”
Alih-alih menjawab dia justru tersenyum manis padaku. Entah kenapa bukannya terpesona atau tersipu tapi justru aku merasa tegang. I smell something wrong.
“Kar, sudah lama aku memperhatikan kamu. Lebih tepatnya sejak kita ngerjain project bareng.”
“Oh gitu.” Aku sendiri tidak yakin harus menanggapi seperti apa.
“Aku yakin kita berdua bakalan cocok.”
Lho … lho … ini keyakinan siapa. Dasarnya apa.
“Hm, aku memang cocok sih sama siapa aja di kantor ini. Bahkan sama tukang bakso aja cocok,” kucoba mencairkan suasana meskipun lagi-lagi i’m not really sure.
“Aku suka mengamati akun-akun medsosmu. Aku tahu kamu suka warna ungu, kamu benci makan jerohan, kamu pengen liburan ke Lombok.”
Tristan terus menyebutkan semua kebiasaan-kebiasaanku. Aku datang jam berapa, pulang jam berapa, mobilku apa, parkirnya dimana. Shit ! Stalker ! Umpatku dalam hati.
“Tahu nggak, kita berdua sama-sama suka minum kopi lho. Kamu suka kan sama hot café lattenya.”
Oh jadi itu dia, si Tristan pelakunya. Dia terlihat senang dan bangga.
“Kamu harusnya berterimakasih sama aku, dan tersanjung karena ada orang yang segitu detailnya mengamatimu.”
Kuucapkan terimakasih sesegera mungkin. Gestur tubuhku makin tak nyaman di dekatnya. Belum lagi dia makin memepetku ke tembok. Sebenarnya aku agak khawatir juga kalau dia tersinggung lalu tiba-tiba aku didorong dari tangga. Berbagai pikiran aneh berkelebat tak karuan.
Ngedate yuk Kar. Oya, aku antar pulang yuk.”
Kuberikan alasan bahwa akhir-akhir ini aku sangat sibuk, jadi aku tidak yakin kapan jadwalku kosong. Kemudian aku pamit sebelumnya berterimakasih banyak karena sudah ditawari tumpangan.

Aku nggak suka kamu deket-deket Audy. Genit ya dia sama kamu.
Sebuah pesan masuk ke handphoneku. Dadaku seperti ditusuk. Saat itu aku dan Audy sedang berjalan di lobi membawa berkas-berkas untuk dimasukkan ke mobil si bos.
Selamat pagi nona manis berbaju hijau garis-garis.
“Ada apa Kar?” Risa memperhatikan mukaku yang tiba-tiba berubah tegang.
“Eh, ehm, nggak ada apa-apa kok. Yuk buruan balik ruangan,” tergesa aku berjalan. Rasanya sekujur tubuhku ini ditempeli GPS.
Selamat Malam Pujaanku. Secangkir Candu Penawar Rindu.
Pesan-pesan singkat berisi ucapan selamat pagi, siang, malam tidak pernah absen dikirim Tristan. Pesan-pesan tersebut berkompetisi dengan pesan singkat mama minta pulsa, tawaran kredit lunak dan aneka promo tidak jelas. Pengirimnya beda-beda tapi semuanya memiliki dampak sama padaku. Mengganggu.
“Ya udah terima aja dia. Lumayan ka nada yang bayarin kemana-mana. Hidupku juga jadi tenang, nggak terancam keselamatanku. Ha ha.”
Kupukul Audy keras-keras, Kenapa sih dia tidak berusaha menghiburku, malah bikin aku makin panik.
“Tahu nggak?”
“Nggak.”
“Aku sekarang jadi agak trauma minum hot café latte. Mau tahu kenapa?”
“Nggak.” Audy malah sibuk sendiri dengan laptopnya.
“Pokoknya aku mau ngasih tahu. Aku jadi inget sama Tristan tiap kali minum hot cafe latte.
Tanpa sadar badanku bergidik takut.
“Cieee inget-inget terus.”
Memang amat sangat salah curhat ke Audy. Salah.
“Terus kamu sekarang minum kopi apa emang?”
Ice café latte.”
Giliran Audy pasang muka bête.
“Kan beda, biasanya hot sekarang jadi ice,” tukasku membela diri.
“Kar.” Nada suara Audy berubah jadi prihatin dan penuh perhatian.
“Apa?”
“Pulang  sono gih. Sebelum aku sembur pakai teh panas.”

Suatu weekend yang boring. Aku dan Audy tanpa sengaja bertemu di festival kopi. Aku memang sudah berniat datang sendirian. Akan susah mengajak geng cewek-cewek rumpi ke acara beginian. Kecuali acaranya fashion show atau beauty class pasti mereka jadi yang terdepan. Sedangkan Audy janjian dengan temannya tapi temannya membatalkan dadakan.
Tentu saja aku geli melihat Audy yang tidak suka minum kopi berada di antara segala hal berbau kopi. Ada jadwal cupping, kelas meracik kopi, pemutaran film dokumenter juga aneka foodtruck yang menjual olahan kopi.
“Sekarang aku tahu kenapa kopi itu pahit.”
“Karena senyumku sudah manis, kan?”
“Yah ketahuan,” Audy berseru pura-pura kecewa.
Hari ini aku takjub padanya, meskipun tidak minum kopi anehnya dia punya banyak pengetahuan tentang jenis-jenis kopi arabika, robusta, liberica. Juga teknik penyajiannya.
Vietnam drip, mokapot, V60.” Dijelaskannya satu-persatu padaku dengan panjang lebar. Tentu saja aku seketika merasa aku ini sejenis spesies pecinta kopi abal-abal. Percakapan kami kelewat panjang lebar sampai saat kami duduk di salah satu kedai kopi pop up, lalu merembet aku curhat masalah Tristan.
I never asked him to love me in the first place.
Bagaimana bisa seseorang yang mencintai kita lantas meminta pertanggungjawaban ke kita? Apa kita yang memaksa dan menyuruhnya jatuh cinta?
“Dia bilang itu nggak adil buat dia, memangnya adil buat aku diperlakukan seperti ini,” dengusku. Aku heran kenapa Audy bisa setenang itu, apa dia memang tidak khawatir aku bakal diapa-apakan oleh Tristan. Apa kami ini benar-benar berteman?
“Mantan aku yang terakhir persis kayak gitu. Jadi aku tau rasanya . . . “
“Dikejar-kejar psikopat?” tukasku cepat. Audy hanya tertawa.
“Mungkin bukan psikopat. Lebih tepatnya posesif. Ya diposesifin kayak gitu.”
“Terus aku harus gimana?”
Audy menyuruhku bersikap sewajarnya saja. Tidak antipati tapi juga tidak terlalu baik. Yang susah itu wajar yang seperti apa. Aku tidak tahu sejak kapan ngobrol dengan Audy bisa begini menyenangkan. Banyak hal menakjubkan yang aku tidak tahu tentangnya. Mungkin sebenarnya aku dan Audy sama-sama cueknya. Aroma kopi menyerbak dari berbagai penjuru. Menyenangkan sekali menghirup wanginya.
“Kopi itu candu.”
“Lalu?” Audy menunggu kelanjutan kalimatku.
Kopi itu kamu. Iya kamu itu candu, andai saja kamu tahu.
“Nggak ada. Gitu doang.”
“Ah nggak asyik, kirain aku bakal digombalin. Ha ha.”

Perlahan tapi pasti. Menurutku kami berdua tidak perlu saling mencari.
Karena kami telah saling menemukan.

photo557604669509183701

*Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

70 Tahun BNI : Catatan dan Harapan

Ibarat sebuah hubungan, sebetulnya saya tahu BNI sejak dahulu kala. Tepatnya sejak berseragam putih abu-abu. Itupun cuma sekedar tahu nama aja. Lalu setelah lulus kuliah banyak teman-teman saya yang masuk BNI lewat jalur ODP alias Officer Development Program. Sebagai informasi tambahan, banyak teman-teman saya yang betah di BNI dan hingga saat ini belum memutuskan resign. Jadi saya yakin bahwa kultur yang dibangun perusahaan cukup baik, sehingga turnover karyawannya relatif kecil.

Kemudian saya resmi berkenalan dengan membuka rekening BNI di Kantor Cabang Bandung. Awalnya juga mau nggak mau, karena kantor saya payrollnya pakai Bank BNI. Ho ho. Sehingga kalau ditanya mulai kapan akrab sama Bank BNI, jawabannya baru beberapa tahun belakangan ini.  Tapi seperti kata pepatah, ‘Tak Kenal maka Tak Sayang.’ Makin kesini malah makin nambah layanan Bank BNI yang saya pakai.

Saya menjadi nasabah BNI Taplus lengkap dengan Kartu ATM. Berbeda dengan Bank-Bank lainnya yang desain Buku Tabungannya polos, BNI Taplus memiliki desain Indonesia banget alias bercorak batik. Corak batik Cirebon tersebut senada dengan Kartu ATMnya. Menurut saya hal tersebut memang terkesan simpel tapi terasa istimewa.

BNI70.jpg

Nah, rupanya kerjasama kantor saya dengan BNI tidak hanya untuk payroll karyawan tetapi juga tabungan hari tua dengan nama produk BNI Simponi. Jadilah saya memiliki buku tabungan kedua sebagai persiapan masa pensiun saya kelak. Yang kalau dihitung-hitung sebenernya pensiun saya masih beberapa puluh tahun lagi. He he. :p

Tidak lama kemudian saya memutuskan membuka BNI Tapenas yang diperuntukkan sebagai tempat saya menabung. Kenapa Tapenas? Karena tidak ada potongan bulanannya dan supaya tidak bisa diambil seenaknya. Jadi aman dari hasrat pengen ambil dikit-dikit buat jajan. Selain itu BNI Tapenas nggak ribet soalnya tiap bulan langsung didebet otomatis dari rekening kita. Nggak ada tuh istilahnya lupa menabung setiap bulan.

Hal keren yang saya tangkap dari BNI adalah kesigapannya mengikuti perkembangan zaman. Bank dengan 1.714 outlet yang tersebar di 34 provinsi ini tahu bagaimana caranya memanfaatkan teknologi sebagai value added layanan kepada pelanggan. Saya merasa dimudahkan dengan adanya fasilitas internet banking dan SMS banking. Khusus untuk internet banking saya juga membeli token supaya dapat bertransaksi seperti pembayaran dan transfer. Hari gini males ke ATM cuma buat ngecek saldo aja. He he. Dengan internet banking kita juga bisa lihat mutasi rekening, apa saja transaksi sudah dilakukan. Sudah nggak jaman antri ke loket buat cetak buku tabungan. 

Sementara itu layanan SMS banking dari BNI selalu memberikan kabar gembira di awal bulan. Yaitu notifikasi bahwa gaji sudah masuk rekening. Yaiyy !! Jadilah saya orang pertama yang selalu tahu bahwa kami sudah gajian. Biasanya saya bakal berteriak-teriak heboh mengumumkan gajinya sudah masuk. Terimakasih SMS Banking😀

Masih tentang kelebihan yang dimiliki BNI dalam hal pemanfaatan tekonologi. Di kantor saya BNI memiliki bilik ATM khusus yang cukup luas. Ada mesin khusus tarik tunai yang akan ngeluarin duit kecuali saldo kita nggak cukup yak, ada mesin khusus transaksi non-tunai yang nggak bakal ngeluarin duit apalagi jodoh, dan mesin khusus setor-tarik tunai. Yang saya sebut terakhir ini lho oke banget. Biasanya kan mesin setor ya cuma untuk setor uang aja. Kita memasukkan sejumlah uang lalu bisa ditransfer ke rekening kita sendiri ataupun rekening orang lain. Tapi disini mesinnya nggak cuma me’makan’ uang kita aja, bisa juga digunakan untuk ambil uang. Misalnya mesin tarik tunainya penuh kita bisa menggunakan mesin setorannya. Saya harap mesin setor-tarik ini tersedia dimana-mana. Oiya, BNI juga menyediakan ATM dengan kelipatan nominal 20.000 rupiah. Menurut saya hal ini unik dan memudahkan kita yang nggak pengen ambil pecahan 50.000 atau 100.000 rupiah.

Tahun ini kiprah BNI di bumi pertiwi menginjak angka 70 tahun. Meskipun sudah tujuhpuluh tapi semangatnya harus tetap kayak remaja tujuhbelas tahun ya. He he. Forever sweet seventeen instead of sweat seventy. Di usia yang ke-70 tentu saja tantangan yang dihadapi makin banyak. Memenuhi harapan para stockholders alias pemegang saham, memberikan kepuasan bagi para stakeholders termasuk karyawan dan pelanggan, juga mengantisipasi pesaing di bidang bisnis jasa keuangan.

Sebagai salah satu nasabah saya pengen memberikan beberapa harapan untuk BNI supaya makin hits di masa mendatang, sehingga bisa merayakan ulangtahun yang ke 700 bahkan 7.000. :p

1. Menjaga dan meningkatkan kualitas layanan.

Alhamdulillah selama berurusan sama Bank BNI nggak pernah dikecewakan baik oleh bagian security, teller maupun CSnya. Mbak dan Masnya semua baik-baik dan menjelaskan dengan terampil. Artinya mereka paham dengan produk knowledgenya. Semoga kualitas layanan semacam ini tetap terjaga bahkan ditingkatkan. Hm, nggak perlu juga sih nyambut nasabah sambil salto ato kayang. :p Jangan sampai ada yang mengeluh karena frontlinernya jutek-jutek atau kurang membantu.

2. Menambah promo dan kerjasama dengan merchant.

Siapa yang nggak suka promo, coba sini angkat tangan? BNI kan sudah punya produk credit card dan BNI Tap Cash tuh. Bakal lebih menyenangkan jika BNI menambah kerjasamanya dengan berbagai macam merchant. Biar kami nasabah makin semangat transaksi menggunakan BNI. Salah satu kekhilafan saya gara-gara BNI adalah waktu Hari Buku Nasional beberapa waktu lalu. Bayangin aja dengan ‘jahat’nya BNI kerjasama dengan Gramedia ngasih diskon 30% untuk semua buku-buku lokal yang pembayarannya menggunakan kartu kredit dan debit BNI. :))))  Saya kalap sekalap-kalapnya. Oiya, promonya sama maskapai penerbangan dong. Biar saya makin sering jalan-jalan. He he.

3. Memudahkan transaksi pembayaran

Di era milenial saat ini kita semua seringkali butuh membeli hal-hal secara online. Apalagi saya anaknya digital banget. *ngaku-ngaku* Seringkali saya urung beli sesuatu di Google Playstore entah majalah, buku, aplikasi atau game lantaran susah bayarnya. Karena banyak transaksi online yang belum menerima pembayaran secara debet, sedangkan tidak semua orang punya kartu kredit. Begitu juga dengan belanja di situs-situs luar negeri. Banyak orang yang sebenarnya ingin tapiii karena susah bayarnya akhirnya batal deh. Belum lagi anak-anak sekolahan yang memang belum bisa punya rekening sendiri. Ini bisa jadi peluang bagus untuk mengembangkan layanan BNI.

4. Perbanyak kompetisi, kuis dan reward point.

Semua orang suka hadiah. Atau ada yang nggak suka? Dan nggak nolak dengan segala hal berbau gratisan. He he. Termasuk saya dong. Jadi sering-sering aja BNI ngadain kegiatan yang mengasah ide dan kreativitas pelanggannya. Selain bagi-bagi rejeki tentu saja meningkatkan engagement dengan pelanggan. Sedangkan untuk reward point BNI bisa mengadakan sebulan sekali, dimana nasabah boleh menukarkan poin yang mereka punya dengan merchandise menarik dari BNI. Merchandisenya bisa berupa agenda, payung, tas, voucher belanja, handphone, skuter dan apartemen. *makin lama makin ngelunjak*

5. Saya jadi pemenang blogging competition.

Aww, yang ini sih bener-bener harapan dan kepentingan pribadi. He he. Seriously saya berharap dilirik panitia buat jadi pemenang lomba blog. Lumayan sekali buat nambah-nambah saldo tabungan dan meningkatkan semangat investasi.😀 Semoga saya terpilih jadi pemenangnya yaaa. Aaaamiin.

Once again, wish you a very happy birthday dear BNI.

Terus bersinergi mengembangkan negeri.🙂

 

 

*Artikel ini diikutsertakan dalam Blogging Competition 70 Tahun BNI.

cjw9fhmugaakme9