Dear December

Dear December, 

please make it smooth. Don’t be too slow or too fast. Make it meaningful every single day. 

And yeah, I write this post while I suppose to finish my task. Lot of pending task which I’m not in a good mood to working on them. Ooppss, your obligation doesn’t need your mood. It’s kinda unprofessional. 

For a strong reason I have what so called I hate Monday syndrome :’) It’s OK, don’t blame Monday. 

Jadi udah Desember aja dong. It means abis ini bakal ganti taun. It means I’m almost officially 3 years living in Bandung.
Udah ngapain aja sih 3 taun di Bandung? Jawabannya belom ngapa-ngapain😀 Masih belum terlalu mengeksplorasi kota Bandung dan alhamdulillah masih nggak bisa Bahasa Sunda :))))

Saya terharu karena ternyata teman-teman saya masih mengingat blog saya dan selalu menanyakan apakah saya masih rajin menulis? Jawabannya sudah sangat jelas. Tidak. He he.

So, I’m gonna write about not so specific topic. I just want to rumbling mumbling and share my random activities. 

Hari ini finally ke bengkel, motor tentu saja, bukan pesawat. Sudah di checkup rutin, sudah ganti oli dan saringan angin atau apalah itu. Agak kesel karena bengkel langganan saya sekarang fasilitas makin menurun dibanding saat pertama kesana. Wifi gratisnya cuma basa-basi alias bisa konek tapi no signal. Dan sudah nggak ada fasilitas teh botol gratis. Tapi sebagai gantinya disediakan dispenser lengkap dengan teh dan kopi supaya pelanggan bisa menyeduh sendiri minumannya.

Pas nunggu motor saya selesai diutak-atik saya sempat mampir ke Mall deket situ. Ujung-ujungnya brunch karena emang belom sarapan dan sudah masuk waktu makan siang. Banyak sale akhir tahun padahal bulan Desember ini bakal banyak pengeluaran. Oh nooo… Dan saya sukses beli sepatu dua pasang -.- Bener-bener shoe fettish, padahal betis saya bukan yang indah gitu. Udah mengungguli pemain bola & tukang becak. Kaki saya juga kayak orang yang kerjaannya mencangkul sawah tiap hari :)))) Item dekil. Maafkan ketidakwanitaan saya yah.

Kelar ngurusin motor saya melaju ke tempat laundry sepatu dekat kantor. Nyoba me-laundry salah satu sneakers saya yang warnanya kanan kiri beda. Ternyata emang sakti nih tempat laundry, soalnya sepatu saya jadi kinclong ! Warnanya sama persis kanan dan kiri. Hebaaaattt. Udah sih, abis itu saya bongkar-bongkar sepatu dikosan dan menemukan belasan pasang sepatu yang seringkali saya lupa pernah beli. Atau kayak bingung mau dipake kemana.

Banyak hal yang mengganggu pikiran. Tapi yaudahlah, namanya juga hidup sih. Tiga pelajaran hidup untuk kali ini,

  1. We can’t force people to stay in our life, and vice-versa we can’t force people to let us enter their life. Masalah kecocokan dan kenyamanan itu adalah pilihan individu. Jadi ya kenapa sih tidak berbesar hati dan menerima dengan lapang dada. Instead of being annoying. I got lot of rejection in life. Is it painful? Of course. But I keep moving forward. Mencoba menghargai keinginan dan pilihan orang lain😉
  2. Not wasting our time. Jangan menyia-nyiakan waktu yang kita punya. Termasuk saya ini yang masih suka menunda menyelesaikan pekerjaan, masih suka menunda berbuat kebaikan, masih suka menghabiskan waktu untuk hal-hal yang blas nggak penting sama sekali. Daripada nih sibuk membenci dan mendengki, kenapa sih nggak upgrading diri. Toh yang untung juga kita sendiri. I try my best to avoid toxic and poisonous people. Meskipun saya sendiri sebenernya cukup berbisa. Ha ha. Gila ih.
  3. Don’t think to high about ourselves. Ini yang lagi tren di kalangan saya dan teman-teman saya. Langit tidak perlu menjelaskan dirinya tinggi. Iya gitu, semua orang juga udah tau kan kalau langit itu tinggi sekali tanpa perlu doi bikin press conference. So, simpan sombongmu baik-baik. Saya udah kelewat eneg sama yang banyak bicara nggak ada hasilnya. Yang sok ngajarin, sok ngguruin, sok bisa, sok paham, sok sibuk, sok penting, sok mengkritisi, sok komplain, sok kaki kambing (sop kali ah) tapi nol besar kontribusinya terhadap kehidupan di alam semesta ini. Ya mungkin nggak nol juga sih, tapi minus. Kumaaaatt penyakit ngomong pedes level lima saya :p

Yawes itu dulu aja, yang penting akhirnya saya nulis meskipun buntu. Adios !

My Cup of Story : Candu itu Kamu

I never asked him to love me in the first place.

Kuucapkan kalimat itu dengan nada frustasi. Aku lelah. Seperti dugaanku, kamu bukan tipe orang yang akan menghibur atau menenangkan orang lain. Apalagi kita toh tidak akrab, hanya kebetulan terjebak dalam percakapan ini. Kenapa juga aku harus curhat denganmu, dengan seorang Audy yang kelewat cuek. Kamu hanya menatapku tajam. Tanpa komentar?

“Satu caffe latte, satu susu coklat, dua espresso dan satu matcha latte.” Yadi, office boy di lantaiku  mengulang kembali pesanan kami. Tawaku tersembur karena susu coklat itu pesanan Audy. Oh man, cowok tinggi, gede, garang tapi minumnya susu coklat.
“Su . . . su?” Kueja pesanan Audy sambil memicingkan mata.
“Biar sehat dan biar kulitku tetap warna coklat,” sahutnya asal. Pecahlah tawa satu ruangan.
Di lantai bawah ada kedai kopi yang baru buka. Tempatnya berkonsep minimalis modern seperti tongkrongan gaul yang sedang happening saat ini. Meja, kursi dan lantai kayu. Spot-spot cantik buat foto-foto lucu yang kami sebut dengan istilah instagramable. Awalnya aku sudah mengunderestimate kedai kopi itu duluan.
“Paling jualan tempat doang. Rasa kopinya nomer dua. So … so …” Ujarku nyinyir. Tapi ternyata setelah kucoba dugaan tersebut salah. Mereka punya barista yang handal dan meracik kopinya dengan serius.
“Oya, kedai bawah aja ngeracik kopinya serius. Kapan hubungan kita dibawa serius?”
Siulan-siulan menggoda ditambah cie … cie … terucap dari berbagai penjuru ruangan. Dasar tukang gombal. Aku sudah hafal dan kebal dengan kelakuan Audy si raja gombal. Semakin dia bilang serius semakin menunjukkan dia nggak serius.
“Ayo berangkat ke KUA sekarang !” Tantangku padanya.
“Masih buka nggak jam segini?”

Lagi, sebuah papercup  berisi hot caffe latte sudah menanti di kubikelku saat aku tiba di kantor. Ini sudah berlangsung seminggu lebih, aku belum tahu siapa pelakunya.
“Mungkin dari Audy,” Myria berbisik padaku sambil tersenyum centil.
“Ha ha. Ya nggak mungkin lah. Kalau dia levelnya kopi sachet. Baru aku percaya.”
Lagipula Audy selalu datang lebih siang daripada aku. Gimana caranya coba dia meletakkan kopi ini.
“Siapa tahu dia nyuruh OB?” Meskipun Myria kekeuh berasumsi ini perbuatan Audy, aku masih tetap yakin itu bukan dia.
“Coba lihat di CCTV. Kalau kamu beneran penasaran sih.
“Yang penasaran itu sebenernya aku apa kamu?” Kutoyor gemas si Myria.

Kusebut diriku si half-blood caffeine karena sehari saja tidak terguyur kopi rasanya ada yang kurang. Mungkin juga sebenarnya hanya sugesti saja bahwa kopi membuatku lebih produktif. Buktinya jika sedang sibuk lalu lupa minum kopi aku tetap baik-baik saja.
“Ayo ngopi dulu biar nggak salah paham.”
Itulah jargon yang selalu diucapkan di antara kami para penikmat kopi. Terdiri dari hampir seluruh pria di ruanganku minus Audy. Sedangkan aku satu-satunya wanita yang minum kopi. Sisanya lebih menggemari matcha latte, thai tea dan bubble milk tea. Meskipun sama-sama minum kopi tapi aku dan para pria itu berbeda aliran.
“Ngopi itu di kantin. Lebih mantap.”
Berkali-kali Wildan mengajakku dan berkali-kali pula aku menolak ajakannya.
“Malas. Di kantin nggak bisa foto-foto cantik. Ha ha. Nanti aku nggak bisa update Snapchat, Path sama Instagram dong.”
Tentu saja teman-teman ngopiku adalah geng wanita yang sayangnya nggak satupun dari mereka doyan kopi.
“Ya ampun, di kantin bau keringat. Mending di kafe bawah, lihat baristanya meliuk-liuk bikin kopi.” Tatapan Risa menerawang membayangkan salah satu barista favorit kami yang senyumnya manis melebihi manis gula jawa.
“Itu barista apa penari ular meliuk-liuk gitu?”
“Audy!” Sienna menjewer kuping kiri Audy.
“Bener tuh, ngopi itu di kantin. Lebih kerasa sensasi ngopinya. Minum kopi tubruk asli Indonesia sambil ngerokok. Mantap.”
“Berisik. Ikut-ikutan aja. Kamu tuh nggak ngopi nggak ngerokok pakai komentar, kayak yang ngerti aja rasanya gimana.” Kali ini giliranku menjewer kuping kanan Audy.

“Aku mau bicara.”
Tristan menghampiri mejaku. Memberi isyarat agar aku mengikutinya keluar ruangan. Saat itu sudah lewat jam kantor, tapi aku sengaja pulang telat demi menghindari macet. Ruanganku sudah sepi, hanya tinggal aku sendirian yang sedang asyik streaming video.
“Oh iya boleh.”

Tristan berjalan ke arah tangga darurat. Aku mengekor di belakangnya.
“Ada apa? Kok kayaknya serius sekali.”
Alih-alih menjawab dia justru tersenyum manis padaku. Entah kenapa bukannya terpesona atau tersipu tapi justru aku merasa tegang. I smell something wrong.
“Kar, sudah lama aku memperhatikan kamu. Lebih tepatnya sejak kita ngerjain project bareng.”
“Oh gitu.” Aku sendiri tidak yakin harus menanggapi seperti apa.
“Aku yakin kita berdua bakalan cocok.”
Lho … lho … ini keyakinan siapa. Dasarnya apa.
“Hm, aku memang cocok sih sama siapa aja di kantor ini. Bahkan sama tukang bakso aja cocok,” kucoba mencairkan suasana meskipun lagi-lagi i’m not really sure.
“Aku suka mengamati akun-akun medsosmu. Aku tahu kamu suka warna ungu, kamu benci makan jerohan, kamu pengen liburan ke Lombok.”
Tristan terus menyebutkan semua kebiasaan-kebiasaanku. Aku datang jam berapa, pulang jam berapa, mobilku apa, parkirnya dimana. Shit ! Stalker ! Umpatku dalam hati.
“Tahu nggak, kita berdua sama-sama suka minum kopi lho. Kamu suka kan sama hot café lattenya.”
Oh jadi itu dia, si Tristan pelakunya. Dia terlihat senang dan bangga.
“Kamu harusnya berterimakasih sama aku, dan tersanjung karena ada orang yang segitu detailnya mengamatimu.”
Kuucapkan terimakasih sesegera mungkin. Gestur tubuhku makin tak nyaman di dekatnya. Belum lagi dia makin memepetku ke tembok. Sebenarnya aku agak khawatir juga kalau dia tersinggung lalu tiba-tiba aku didorong dari tangga. Berbagai pikiran aneh berkelebat tak karuan.
Ngedate yuk Kar. Oya, aku antar pulang yuk.”
Kuberikan alasan bahwa akhir-akhir ini aku sangat sibuk, jadi aku tidak yakin kapan jadwalku kosong. Kemudian aku pamit sebelumnya berterimakasih banyak karena sudah ditawari tumpangan.

Aku nggak suka kamu deket-deket Audy. Genit ya dia sama kamu.
Sebuah pesan masuk ke handphoneku. Dadaku seperti ditusuk. Saat itu aku dan Audy sedang berjalan di lobi membawa berkas-berkas untuk dimasukkan ke mobil si bos.
Selamat pagi nona manis berbaju hijau garis-garis.
“Ada apa Kar?” Risa memperhatikan mukaku yang tiba-tiba berubah tegang.
“Eh, ehm, nggak ada apa-apa kok. Yuk buruan balik ruangan,” tergesa aku berjalan. Rasanya sekujur tubuhku ini ditempeli GPS.
Selamat Malam Pujaanku. Secangkir Candu Penawar Rindu.
Pesan-pesan singkat berisi ucapan selamat pagi, siang, malam tidak pernah absen dikirim Tristan. Pesan-pesan tersebut berkompetisi dengan pesan singkat mama minta pulsa, tawaran kredit lunak dan aneka promo tidak jelas. Pengirimnya beda-beda tapi semuanya memiliki dampak sama padaku. Mengganggu.
“Ya udah terima aja dia. Lumayan ka nada yang bayarin kemana-mana. Hidupku juga jadi tenang, nggak terancam keselamatanku. Ha ha.”
Kupukul Audy keras-keras, Kenapa sih dia tidak berusaha menghiburku, malah bikin aku makin panik.
“Tahu nggak?”
“Nggak.”
“Aku sekarang jadi agak trauma minum hot café latte. Mau tahu kenapa?”
“Nggak.” Audy malah sibuk sendiri dengan laptopnya.
“Pokoknya aku mau ngasih tahu. Aku jadi inget sama Tristan tiap kali minum hot cafe latte.
Tanpa sadar badanku bergidik takut.
“Cieee inget-inget terus.”
Memang amat sangat salah curhat ke Audy. Salah.
“Terus kamu sekarang minum kopi apa emang?”
Ice café latte.”
Giliran Audy pasang muka bête.
“Kan beda, biasanya hot sekarang jadi ice,” tukasku membela diri.
“Kar.” Nada suara Audy berubah jadi prihatin dan penuh perhatian.
“Apa?”
“Pulang  sono gih. Sebelum aku sembur pakai teh panas.”

Suatu weekend yang boring. Aku dan Audy tanpa sengaja bertemu di festival kopi. Aku memang sudah berniat datang sendirian. Akan susah mengajak geng cewek-cewek rumpi ke acara beginian. Kecuali acaranya fashion show atau beauty class pasti mereka jadi yang terdepan. Sedangkan Audy janjian dengan temannya tapi temannya membatalkan dadakan.
Tentu saja aku geli melihat Audy yang tidak suka minum kopi berada di antara segala hal berbau kopi. Ada jadwal cupping, kelas meracik kopi, pemutaran film dokumenter juga aneka foodtruck yang menjual olahan kopi.
“Sekarang aku tahu kenapa kopi itu pahit.”
“Karena senyumku sudah manis, kan?”
“Yah ketahuan,” Audy berseru pura-pura kecewa.
Hari ini aku takjub padanya, meskipun tidak minum kopi anehnya dia punya banyak pengetahuan tentang jenis-jenis kopi arabika, robusta, liberica. Juga teknik penyajiannya.
Vietnam drip, mokapot, V60.” Dijelaskannya satu-persatu padaku dengan panjang lebar. Tentu saja aku seketika merasa aku ini sejenis spesies pecinta kopi abal-abal. Percakapan kami kelewat panjang lebar sampai saat kami duduk di salah satu kedai kopi pop up, lalu merembet aku curhat masalah Tristan.
I never asked him to love me in the first place.
Bagaimana bisa seseorang yang mencintai kita lantas meminta pertanggungjawaban ke kita? Apa kita yang memaksa dan menyuruhnya jatuh cinta?
“Dia bilang itu nggak adil buat dia, memangnya adil buat aku diperlakukan seperti ini,” dengusku. Aku heran kenapa Audy bisa setenang itu, apa dia memang tidak khawatir aku bakal diapa-apakan oleh Tristan. Apa kami ini benar-benar berteman?
“Mantan aku yang terakhir persis kayak gitu. Jadi aku tau rasanya . . . “
“Dikejar-kejar psikopat?” tukasku cepat. Audy hanya tertawa.
“Mungkin bukan psikopat. Lebih tepatnya posesif. Ya diposesifin kayak gitu.”
“Terus aku harus gimana?”
Audy menyuruhku bersikap sewajarnya saja. Tidak antipati tapi juga tidak terlalu baik. Yang susah itu wajar yang seperti apa. Aku tidak tahu sejak kapan ngobrol dengan Audy bisa begini menyenangkan. Banyak hal menakjubkan yang aku tidak tahu tentangnya. Mungkin sebenarnya aku dan Audy sama-sama cueknya. Aroma kopi menyerbak dari berbagai penjuru. Menyenangkan sekali menghirup wanginya.
“Kopi itu candu.”
“Lalu?” Audy menunggu kelanjutan kalimatku.
Kopi itu kamu. Iya kamu itu candu, andai saja kamu tahu.
“Nggak ada. Gitu doang.”
“Ah nggak asyik, kirain aku bakal digombalin. Ha ha.”

Perlahan tapi pasti. Menurutku kami berdua tidak perlu saling mencari.
Karena kami telah saling menemukan.

photo557604669509183701

*Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com