Serunya Punya Personalised Stamp alias Prangko Identitas Milik Anda (PRISMA)

Sesuatu yang custom emang seems special. Berasa lebih eksklusif gitu kan kalau punya barang custom ketimbang yang diproduksi secara massal. Karena sudah pasti yang massal banyak kembarannya di pasaran. Ho ho.

Coba sebutkan apa aja barang yang bisa dicustom? Makin lama makin banyak. Nggak terbatas gelas, kaos, atau binder aja. Mulai dari smartphone case, jam tangan sampai mobil semuanya bisa dicustom. Kalau dipikir-pikir ternyata jauh sebelum benda-benda custom ini jadi tren ternyata Kantor Pos udah menerapkannya di salah satu produk mereka. Pernah denger PRISMA? Kependekan dari Prangko Identitas Milik Anda ini bisa dibilang cikal bakal barang custom. Dengan PRISMA, kita bisa bikin prangko pakai gambar apa aja yang kita mau. Istimewanya lagi prangko ini resmi dan bisa dipakai buat kirim-kirim juga.

Nggak cuma Pos Indonesia yang punya PRISMA, di layanan pos negara lain seperti Australia Post dan Royal Mail juga punya layanan custom prangko yang disebut sebagai personalised stamp. 

Dulu sih cara bikinnya kita datang ke Kantor Pos terus difoto ala-ala photobox gitu terus dicetak. Sekarang udah lebih canggih lagi, kita bisa datang dengan membawa file gambar yang pengen dijadiin PRISMA. Bawanya dalam bentuk softcopy dengan format JPG ya. Jangan bawa-bawa file word atau excel.

Abis itu kasih aja ke petugas yang bikin prangko PRISMA. Dicetak deh jadi prangko.

Selama ini prangko PRISMA sering digunakan sebagai cenderamata, merchandise, keperluan promosi dan kampanye oleh brand dan public figure. Masih ingat prangko bergambar Agnes Monica? Atau prangko bergambar Doraemon? Itu semua dicetak menggunakan layanan PRISMA. 

Bayangin lucu dong kalau prangkonya bergambar karakter film kesayanganmu, atau bisa juga bergambar foto selfiemu.  
Saya jadi kepikiran kalau tim penjualan prangko PRISMA bisa nyobain kerjasama dengan sekolah-sekolah atau fanbase K-POP. Kalau sekolah-sekolah sambil mengedukasi tentang benda Pos juga anak-anak bebas milih prangko sesuai superhero kesukaan mereka. Sedangkan para pengidola boyband punya merchandise prangko bergambar EXO, Suju atau BTOB misalnya. Terus yang doyan nonton drama bisa punya prangko bergambar Lee Min Ho, Jo In Sung, atau Lee Jong Suk (selera pribadi :p)

Berapa sih harga prangko PRISMA? Murah kok. Masih mahal ngopi di kafe sebelah sih. Satu lembar berisi 8 buah prangko dibandrol sekitar 32.000 rupiah. Maaf ya kalau meleset :p Tapi ya kisarannya segituan deh. 

prisma

Ilustrasi Gambar diambil dari akun Instagram Pos Indonesia.

Dimana kita bisa bikin prangko PRISMA? Di Kantor Pos besar kota kamu atau di kantor pos yang ada pojok filatelinya. Bisa juga kirim email ke andrean@posindonesia.co.id atau colek akun twitter Kantor Filateli Jakarta disini.

 

Ada yang udah pernah nyoba bikin PRISMA alias Prangko Identitas Milik Anda?

Ikut Lokakarya Menulis Novel Bareng Jia Effendie

Proud of myself because I feel like end last year and start this new year with positive activities.

Akhir tahun kemarin saya berkesempatan mengikuti workshop branding di kantor dengan pemateri Amalia E. Maulana, seorang pakar etnografi yang sudah sering saya baca blognya sejak jaman kuliah.
Kemudian di awal tahun ini, berawal dari iseng setelah sebuah email dari Storial masuk ke inbox. Saya mendaftar Lokakarya Menulis Novel dengan pemateri mbak Jia Effendie, salah seorang mantan editor GagasMedia yang memutuskan jadi freelancer.

Lokakarya Menulis Novel?  Nggak muluk-muluk alasan saya ikutan, cuma pengen tahu seperti apa sih proses menulis novel itu sebenernya. Oke daftar. Dua hari workshop pada 7-8 Januari cukup bayar Rp 150.000 aja. Sudah include materi dan snack, sambil ngasih makan otak ngasih makan perut juga. :p
Lokasi workshop di CO & CO working space yang ternyata bersebelahan dengan Warunk Upnormal Dipati Ukur. Lantai bawah berupa kafe yang namanya Butterfield Kitchen, lantai atasnya berupa ruang-ruang alias working space. Ya ampun padahal tuh tiap hari saya lewat sini lho kalau berangkat dan pulang kerja tapi nggak ngeh ada tempat begini.  Jadi dapat informasi tempat baru nih. Ho ho.

Hari pertama workshop menulis diikuti oleh sekitar limabelas orang kalau dilihat dari daftar hadirnya. Nggak ngitung lagi sih pas di dalem kelas. diisi dengan materi tentang dramatic storytelling. Peserta diminta mendefinisikan arti novel bagi masing-masing kita. Menurut saya? Novel itu cerita yang panjang, yang jadisebuku, yang bukan cerpen.  *abaikan*whatsapp-image-2017-01-23-at-01-27-24

Kita diajari cara melakukan pembentukan karakter.  Yah bikin tokoh di novel itu nggak sekedar namanya Raissa dan berperan sebagai remaja SMA. Kompleks banget ternyata. Bikin tokoh novel mungkin bisa dibilang semacam create karakter di The Sims. Semakin detil semakin bagus, mulai dari fisik, sifat bahkan sampai psikologisnya. Maksudnya penulis punya catatan tentang deskripsi masing-masing tokoh. Bukan ditulis satu-satu di novelnya. Itu sih namanya Buku Kenangan SMA kalau ada biodata plus kata mutiara. -.-

Selain itu kita diminta membuat premis dari novel yang mau kita buat, memunculkan konflik juga membuat outline. Oh no, siapa bilang nulis itu gampang? Fitnah banget. Ha ha.
Masalah konflik nih ya, saya bisa memunculkan konflik tapi abis itu nggak bisa ngasih resolusinya. Dudul abis kan. Semacam hit and run, tidak untuk ditiru.

Hal krusial dalam pembuatan novel yaitu outline. Iya sebelum ditulis kita sudah punya gambaran mengenai isi bab per bab sampai terakhir. Jangan kayak saya, punya ide, nulis terus bosen atau nggak tahu mau diapakan T.T Pokoknya kalau mau tahu contoh penulis abal-abal nggak usah jauh-jauh, nih disini orangnya :p

Ohiya satu lagi, menulis novel itu butuh endurance. Bener-bener berbeda dengan menulis cerpen, blog atau berita yang paling cuma butuh beberapa paragraf aja. Bayangkan … berlembar-lembar naskah harus kelar sampai bisa disebut buku. Hal ini diakui juga oleh mbak Jia Effendie yang menyebutkan bahwa dirinya termasuk penulis nafas pendek. Ah si embak mah spesialis editor :p

Workshop hari kedua lebih santai. Eh padahal ada PRnya sih. Di hari kedua ini lebih banyak bicara tentang proses penerbitan. Gimana mengajukan naskah ke penerbit, apa saja yang perlu dipersiapkan. Kemudian ada sharing session dari mbak Erlin Natawiria yang sudah menerbitkan beberapa novel termasuk yang terbaru serial Blue Valleys, mbak Lou dari Storial.Co, dan mbak Rina Wulandari dari Falcon Publishing.  Yeayy !

whatsapp-_-reaterary

Hal lain yang saya nggak sangka dari workshop ini, ternyata pesertanya itu rata-rata sudah pernah menerbitkan buku lho. Baik diterbitkan melalui penerbit major maupun lewat penerbit indie. Sama-sama kerennya. Satu-satunya buku karya saya tidak lain adalah buku skripsi :3 Peserta terkecil masih duduk di bangku SMP, tapi sudah punya buku KKPK yang diterbitkan Mizan. Peserta lain jauh-jauh dateng dari Jogja. Bersyukur part lainnya adalah saya duduk di meja belakang, dimana karakter anak belakang rata-rata berlaku sama. Anak-anak bandel yang bersisik eh berisik. Karena kenal mereka saya jadi dapat banyak ilmu. *ah kemana aja sih selama ini*

Di sesi akhir peserta diminta bikin kalimat dengan tiga keyword, hadiahnya buku Blue Valley Series. Makasih mbak Erlin yang sudah memilih kalimat karangan saya. Senangnyaaa dapet buku gratis ! Saya dapat yang judulnya Senandika Prisma karya mbak Aditia Yudis. Lagi dalam proses dibaca sampai sekarang.

So far bagaimana tanggapan saya tentang Lokakarya Menulis yang diadakan sama Reaterary? Jawabannya puas dan worth to join. Bahkan kita-kita mau kalau diadakan lagi acara sejenis besok-besok.
Special thanks to Mbak Jia Effendie yang sudah mempertemukan kami semua.

Penyelenggara acara,

Reaterary
https://www.instagram.com/reaterary/
https://reaterary.wordpress.com/

Lokasi,

CO&CO Space
Jln. Dipati Ukur No.5, Bandung
https://www.instagram.com/coandcospace/

Anak meja belakang,

Dy Lunaly : https://www.instagram.com/dylunaly/
Vie Asano : https://www.instagram.com/vieasano/
Chika Riki : https://www.instagram.com/chikariki9/
Sandra S : https://www.instagram.com/ssaffira.id/
Aulia : https://www.instagram.com/k.aulia.r/
Salma : https://www.instagram.com/bbellabbannanna/
Dita : https://www.instagram.com/frappiocoffee/